Postingan

Ketika yang Baru Dianggap Penyelamat, yang Lama Dianggap Biasa Saja

Ketika kontribusi yang membangun fondasi menjadi tidak terlihat, sementara orang yang datang belakangan justru dianggap sebagai penyelamat. Ada orang-orang yang bekerja di sebuah organisasi sejak organisasi itu masih kecil. Mereka datang ketika jumlah orang masih sedikit. Sistem belum rapi. Banyak pekerjaan masih dikerjakan secara manual. Struktur belum jelas. Bahkan mungkin belum ada sistem yang bisa disebut sistem. Mereka bertahan ketika organisasi melewati masa-masa sulit. Sedikit demi sedikit, mereka ikut membangun apa yang sekarang terlihat sebagai sesuatu yang biasa: prosedur yang berjalan, budaya kerja yang terbentuk, pelayanan yang tetap berlangsung, dan organisasi yang akhirnya menjadi jauh lebih besar. Lalu organisasi tumbuh. Orang-orang baru datang. Mereka membawa pengalaman baru, cara kerja baru, dan mungkin memang membawa beberapa perbaikan yang dibutuhkan organisasi. Tentunya itu hal yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika kehadiran mereka kemudian m...

Memperbesar Konflik adalah Cara Menyelesaikan Konflik

  Kadang masalah nggak selesai bukan karena terlalu besar, tapi karena dampaknya belum cukup dirasakan oleh orang-orang yang sebenarnya perlu ikut menyelesaikannya. Masalah sering kali berlarut-larut bukan karena rumit, melainkan karena ia hanya dianggap sebagai urusan satu orang atau satu bagian. Ketika dampaknya terisolasi, wajar jika tidak banyak orang merasa perlu ikut turun tangan. Bayangkan kita berada di lorong yang padat sambil membawa secangkir air panas. Lalu kita berkata: “Permisi, tolong beri saya jalan.” Orang mungkin hanya menoleh sebentar, lalu mengabaikan. Siapa dia? Kenapa saya harus repot-repot minggir? Tapi coba katakan hal ini: “Permisi, beri saya jalan. Saya membawa air mendidih. Kalau tersenggol, nanti ada yang bisa tersiram.” Seketika itu juga, orang-orang di depan kita akan membuka jalan. Kenapa? Karena “beri saya jalan” adalah kepentingan saya sendiri , sedangkan “jangan sampai ada yang tersiram air panas” adalah kepentingan semua orang. ...

Ketika Semua Orang Mengatakan "Iya"

  Belum tentu mereka setuju. Bisa jadi mereka hanya tidak merasa aman untuk mengatakan tidak. Saat itu ruang rapat cukup menegangkan karena beberapa rekan kerja memiliki pemikiran yang tidak sejalan dengan pimpinan. Kami menghadirkan data dan fakta yang berbeda dengan yang dimiliki beliau. Beliau cukup marah dan mengatakan, “Ikuti apa kata saya!” Dari beberapa kejadian yang sama kami belajar bahwa kami harus selalu mengikuti dan menyetujui rencana beliau. Apakah anda pernah mengalami hal seperti di atas dan akhirnya semua orang mengangguk? "Setuju?" "Iya, Pak." "Ada yang keberatan?" Diam. Semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi apakah benar seperti itu? Yang harus kita pahami sebagai pemimpin bahwa tidak semua "iya" berarti setuju. Dan tidak semua diam berarti tidak punya pendapat.   Mengapa Bawahan Mengatakan "Iya"? Ada banyak alasan kenapa bawahan  kita selalu mengatakan “Iya”, tapi kalau dikelompokkan, sebagian b...

Pemimpin Bertanggung Jawab Dua Kali

  Di hadapan manusia kita menjelaskan hasilnya. Di hadapan Allah, kita mempertanggungjawabkan caranya. Kita Sering Cuma Menghitung Tanggung Jawab yang Kelihatan Pada saat seseorang diberikan amanah memimpin, ukuran keberhasilan yang diberikan cukup jelas. Organisasi berkembang. Program jalan. Anggaran terkendali. Target tercapai. Warga puas. Atasan puas. Memang seperti itu cara dunia mengukur keberhasilan seorang pemimpin. Tapi ada bagian yang tidak pernah masuk laporan dan yang tidak masuk laporan ini bukan berarti tidak penting. Bagaimana keputusan itu dibuat? Apakah adil? Apakah informasi yang dipakai benar? Apakah semua orang dikasih kesempatan bicara? Apakah orang yang dekat dapat perlakuan berbeda? Apakah pemimpin dengar kebenaran, atau cuma dengar orang-orang yang menyenangkannya? Nah, itu wilayah pertanggungjawaban kedua.   Tanggung Jawab Pertama: Kepada Manusia Seorang pemimpin memiliki kewajiban terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Karyawan. Guru. Siswa. Orang tua....

Ketika yang Baru Dianggap Penyelamat, yang Lama Dianggap Biasa Saja

  Ketika kontribusi yang membangun fondasi menjadi tidak terlihat, sementara orang yang datang belakangan justru dianggap sebagai penyelamat. Ada orang-orang yang bekerja di sebuah organisasi sejak organisasi itu masih kecil. Mereka datang ketika jumlah orang masih sedikit. Sistem belum rapi. Banyak pekerjaan masih dikerjakan secara manual. Struktur belum jelas. Bahkan mungkin belum ada sistem yang bisa disebut sistem. Mereka bertahan ketika organisasi melewati masa-masa sulit. Sedikit demi sedikit, mereka ikut membangun apa yang sekarang terlihat sebagai sesuatu yang biasa: prosedur yang berjalan, budaya kerja yang terbentuk, pelayanan yang tetap berlangsung, dan organisasi yang akhirnya menjadi jauh lebih besar. Lalu organisasi tumbuh. Orang-orang baru datang. Mereka membawa pengalaman baru, cara kerja baru, dan mungkin memang membawa beberapa perbaikan yang dibutuhkan organisasi. Itu hal yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika kehadiran mereka kemudian membuat seo...

Home-Based Learning, Again

  Menghadapi bencana bersama-sama Hari Minggu sore, 6 September 2026. Pikiran saya seketika menerawang kembali ke Maret–April 2020, masa-masa awal pandemi ketika segala sesuatu terasa asing dan begitu tiba-tiba. Sebuah surat edaran dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten mendarat di grup WhatsApp kepala sekolah Banten dan MKKS. Isi surat ini menekankan pada kebijakan PJJ karena di luar sana, ancaman yang berbeda dari pandemi sedang terjadi. Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar cukup luas hingga mencapai wilayah Jabodetabek. Kondisi udara yang mengandung abu vulkanik membawa kekhawatiran. Bukan hanya bagi siswa-siswi, tetapi juga guru dan seluruh warga sekolah. Dalam situasi seperti ini, Home-Based Learning (HBL) menjadi salah satu langkah yang memang harus segera dipersiapkan. Namun, ada satu perbedaan besar antara hari ini dan tahun 2020. Pada saat pandemi pertama kali terjadi, kami seperti masuk ke sebuah ruangan yang gelap. Karena saat itu kami be...

Pada Saat Keputusan Tidak Bisa Menunggu

Mengambil keputusan terencana dalam keadaan darurat bencana Dalam keadaan darurat, cepat itu penting. Tetapi kesiapan dalam membuat keputuskan jauh lebih penting. Sebagai kepala sekolah, saya cukup sering mendapatkan masukan dari orang tua ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat. “Pak, kalau keadaan darurat, harus segera buat keputusan. Saat ini juga.” Saya memahami itu. Bahkan saya tidak pernah menganggap desakan seperti itu sebagai sesuatu yang salah. Orang tua sedang memikirkan keselamatan anak mereka. Ketika situasi tidak jelas, tentu mereka ingin mendapatkan kepastian. Apakah anak mereka harus hadir di sekolah apa tidak? Kalau di rumah, mulai kapan? Orang tua ingin tahu dan mereka ingin tahu sekarang. Tetapi ada sesuatu yang mungkin tidak terlihat dari sisi orang tua. Keputusan sekolah tidak hanya menyangkut satu anak. Di belakang satu keputusan ada ribuan siswa, guru, dan karyawan. Beberapa sekolah juga memiliki beberapa jenjang Pendidikan dimana ada kegiat...