Postingan

Ketika PISA Mengubah Cara Kita Melihat Pendidikan

  PISA, Finlandia, China, dan Pertanyaan tentang Manusia yang Kita Bangun Pagi itu saya membaca sebuah artikel yang dibagikan atasan saya di grup Manajemen. Judulnya cukup menarik perhatian: “Hasil Tes Pendidikan: Finlandia Tidak Lagi Terbaik Dunia, China Perkasa.” Bagi saya, isi artikel tersebut penting sebagai bahan refleksi—bukan untuk mempertanyakan apa yang selama ini kami lakukan di Syafana Islamic School–Upper Secondary sejak awal 2015, apalagi buru-buru mengubah arah yang sudah kami bangun. Justru sebaliknya. Sebagai seorang pendidik, saya melihat data dan perubahan seperti ini sebagai kesempatan untuk kembali bertanya: sebenarnya, manusia seperti apa yang ingin kita bangun melalui pendidikan? PISA memberi kita data tentang kemampuan akademik siswa. Finlandia memberi kita banyak pelajaran tentang pendidikan yang humanistic dan perkembangan anak secara utuh. China menunjukkan kekuatan academic excellence, discipline, hard work, dan high expectations . Masing-masing m...

Kepemimpinan Bukan Jabatan, tapi Keputusan Setiap Hari

  Belajar bahwa jabatan memberi wewenang, tetapi keputusan sehari-hari yang membangun kepercayaan. Ketika pertama kali diangkat sebagai kepala sekolah tepatnya Juli 2015, saya sempat berpikir kepemimpinan adalah sesuatu yang datang bersama jabatan. Begitu surat keputusan ditandatangani, saya resmi menjadi pemimpin. Untungnya saya tidak butuh waktu lama untuk menyadari bagaimana kepemimpinan itu sebenarnya bekerja. Jabatan tersebut memberikan saya wewenang untuk membuat keputusan. Akan tetapi wewenang itu tidak otomatis membuat orang lain mempercayai keputusan saya. Dan saya sadari juga bahwa kepercayaan itu dibangun, atau justru dirusak, oleh apa yang saya lakukan setelah jabatan itu ada di tangan saya — bukan oleh jabatan itu sendiri. Masih segar diingatan saya dan benar-benar saya rasakan. Saya ingat momen ketika hal ini pertama kali benar-benar saya rasakan. Ada situasi kecil, seorang guru datang dengan masalah yang sebenarnya bisa saya selesaikan dengan cepat lewat instru...

Ketika yang Baru Dianggap Penyelamat, yang Lama Dianggap Biasa Saja

Ketika kontribusi yang membangun fondasi menjadi tidak terlihat, sementara orang yang datang belakangan justru dianggap sebagai penyelamat. Ada orang-orang yang bekerja di sebuah organisasi sejak organisasi itu masih kecil. Mereka datang ketika jumlah orang masih sedikit. Sistem belum rapi. Banyak pekerjaan masih dikerjakan secara manual. Struktur belum jelas. Bahkan mungkin belum ada sistem yang bisa disebut sistem. Mereka bertahan ketika organisasi melewati masa-masa sulit. Sedikit demi sedikit, mereka ikut membangun apa yang sekarang terlihat sebagai sesuatu yang biasa: prosedur yang berjalan, budaya kerja yang terbentuk, pelayanan yang tetap berlangsung, dan organisasi yang akhirnya menjadi jauh lebih besar. Lalu organisasi tumbuh. Orang-orang baru datang. Mereka membawa pengalaman baru, cara kerja baru, dan mungkin memang membawa beberapa perbaikan yang dibutuhkan organisasi. Tentunya itu hal yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika kehadiran mereka kemudian m...

Memperbesar Konflik adalah Cara Menyelesaikan Konflik

  Kadang masalah nggak selesai bukan karena terlalu besar, tapi karena dampaknya belum cukup dirasakan oleh orang-orang yang sebenarnya perlu ikut menyelesaikannya. Masalah sering kali berlarut-larut bukan karena rumit, melainkan karena ia hanya dianggap sebagai urusan satu orang atau satu bagian. Ketika dampaknya terisolasi, wajar jika tidak banyak orang merasa perlu ikut turun tangan. Bayangkan kita berada di lorong yang padat sambil membawa secangkir air panas. Lalu kita berkata: “Permisi, tolong beri saya jalan.” Orang mungkin hanya menoleh sebentar, lalu mengabaikan. Siapa dia? Kenapa saya harus repot-repot minggir? Tapi coba katakan hal ini: “Permisi, beri saya jalan. Saya membawa air mendidih. Kalau tersenggol, nanti ada yang bisa tersiram.” Seketika itu juga, orang-orang di depan kita akan membuka jalan. Kenapa? Karena “beri saya jalan” adalah kepentingan saya sendiri , sedangkan “jangan sampai ada yang tersiram air panas” adalah kepentingan semua orang. ...

Ketika Semua Orang Mengatakan "Iya"

  Belum tentu mereka setuju. Bisa jadi mereka hanya tidak merasa aman untuk mengatakan tidak. Saat itu ruang rapat cukup menegangkan karena beberapa rekan kerja memiliki pemikiran yang tidak sejalan dengan pimpinan. Kami menghadirkan data dan fakta yang berbeda dengan yang dimiliki beliau. Beliau cukup marah dan mengatakan, “Ikuti apa kata saya!” Dari beberapa kejadian yang sama kami belajar bahwa kami harus selalu mengikuti dan menyetujui rencana beliau. Apakah anda pernah mengalami hal seperti di atas dan akhirnya semua orang mengangguk? "Setuju?" "Iya, Pak." "Ada yang keberatan?" Diam. Semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi apakah benar seperti itu? Yang harus kita pahami sebagai pemimpin bahwa tidak semua "iya" berarti setuju. Dan tidak semua diam berarti tidak punya pendapat.   Mengapa Bawahan Mengatakan "Iya"? Ada banyak alasan kenapa bawahan  kita selalu mengatakan “Iya”, tapi kalau dikelompokkan, sebagian b...

Pemimpin Bertanggung Jawab Dua Kali

  Di hadapan manusia kita menjelaskan hasilnya. Di hadapan Allah, kita mempertanggungjawabkan caranya. Kita Sering Cuma Menghitung Tanggung Jawab yang Kelihatan Pada saat seseorang diberikan amanah memimpin, ukuran keberhasilan yang diberikan cukup jelas. Organisasi berkembang. Program jalan. Anggaran terkendali. Target tercapai. Warga puas. Atasan puas. Memang seperti itu cara dunia mengukur keberhasilan seorang pemimpin. Tapi ada bagian yang tidak pernah masuk laporan dan yang tidak masuk laporan ini bukan berarti tidak penting. Bagaimana keputusan itu dibuat? Apakah adil? Apakah informasi yang dipakai benar? Apakah semua orang dikasih kesempatan bicara? Apakah orang yang dekat dapat perlakuan berbeda? Apakah pemimpin dengar kebenaran, atau cuma dengar orang-orang yang menyenangkannya? Nah, itu wilayah pertanggungjawaban kedua.   Tanggung Jawab Pertama: Kepada Manusia Seorang pemimpin memiliki kewajiban terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Karyawan. Guru. Siswa. Orang tua....

Ketika yang Baru Dianggap Penyelamat, yang Lama Dianggap Biasa Saja

  Ketika kontribusi yang membangun fondasi menjadi tidak terlihat, sementara orang yang datang belakangan justru dianggap sebagai penyelamat. Ada orang-orang yang bekerja di sebuah organisasi sejak organisasi itu masih kecil. Mereka datang ketika jumlah orang masih sedikit. Sistem belum rapi. Banyak pekerjaan masih dikerjakan secara manual. Struktur belum jelas. Bahkan mungkin belum ada sistem yang bisa disebut sistem. Mereka bertahan ketika organisasi melewati masa-masa sulit. Sedikit demi sedikit, mereka ikut membangun apa yang sekarang terlihat sebagai sesuatu yang biasa: prosedur yang berjalan, budaya kerja yang terbentuk, pelayanan yang tetap berlangsung, dan organisasi yang akhirnya menjadi jauh lebih besar. Lalu organisasi tumbuh. Orang-orang baru datang. Mereka membawa pengalaman baru, cara kerja baru, dan mungkin memang membawa beberapa perbaikan yang dibutuhkan organisasi. Itu hal yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika kehadiran mereka kemudian membuat seo...