Postingan

Ketika yang Baru Dianggap Penyelamat, yang Lama Dianggap Biasa Saja

  Ketika kontribusi yang membangun fondasi menjadi tidak terlihat, sementara orang yang datang belakangan justru dianggap sebagai penyelamat. Ada orang-orang yang bekerja di sebuah organisasi sejak organisasi itu masih kecil. Mereka datang ketika jumlah orang masih sedikit. Sistem belum rapi. Banyak pekerjaan masih dikerjakan secara manual. Struktur belum jelas. Bahkan mungkin belum ada sistem yang bisa disebut sistem. Mereka bertahan ketika organisasi melewati masa-masa sulit. Sedikit demi sedikit, mereka ikut membangun apa yang sekarang terlihat sebagai sesuatu yang biasa: prosedur yang berjalan, budaya kerja yang terbentuk, pelayanan yang tetap berlangsung, dan organisasi yang akhirnya menjadi jauh lebih besar. Lalu organisasi tumbuh. Orang-orang baru datang. Mereka membawa pengalaman baru, cara kerja baru, dan mungkin memang membawa beberapa perbaikan yang dibutuhkan organisasi. Itu hal yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika kehadiran mereka kemudian membuat seo...

Home-Based Learning, Again

  Menghadapi bencana bersama-sama Hari Minggu sore, 6 September 2026. Pikiran saya seketika menerawang kembali ke Maret–April 2020, masa-masa awal pandemi ketika segala sesuatu terasa asing dan begitu tiba-tiba. Sebuah surat edaran dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten mendarat di grup WhatsApp kepala sekolah Banten dan MKKS. Isi surat ini menekankan pada kebijakan PJJ karena di luar sana, ancaman yang berbeda dari pandemi sedang terjadi. Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar cukup luas hingga mencapai wilayah Jabodetabek. Kondisi udara yang mengandung abu vulkanik membawa kekhawatiran. Bukan hanya bagi siswa-siswi, tetapi juga guru dan seluruh warga sekolah. Dalam situasi seperti ini, Home-Based Learning (HBL) menjadi salah satu langkah yang memang harus segera dipersiapkan. Namun, ada satu perbedaan besar antara hari ini dan tahun 2020. Pada saat pandemi pertama kali terjadi, kami seperti masuk ke sebuah ruangan yang gelap. Karena saat itu kami be...

Pada Saat Keputusan Tidak Bisa Menunggu

Mengambil keputusan terencana dalam keadaan darurat bencana Dalam keadaan darurat, cepat itu penting. Tetapi kesiapan dalam membuat keputuskan jauh lebih penting. Sebagai kepala sekolah, saya cukup sering mendapatkan masukan dari orang tua ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat. “Pak, kalau keadaan darurat, harus segera buat keputusan. Saat ini juga.” Saya memahami itu. Bahkan saya tidak pernah menganggap desakan seperti itu sebagai sesuatu yang salah. Orang tua sedang memikirkan keselamatan anak mereka. Ketika situasi tidak jelas, tentu mereka ingin mendapatkan kepastian. Apakah anak mereka harus hadir di sekolah apa tidak? Kalau di rumah, mulai kapan? Orang tua ingin tahu dan mereka ingin tahu sekarang. Tetapi ada sesuatu yang mungkin tidak terlihat dari sisi orang tua. Keputusan sekolah tidak hanya menyangkut satu anak. Di belakang satu keputusan ada ribuan siswa, guru, dan karyawan. Beberapa sekolah juga memiliki beberapa jenjang Pendidikan dimana ada kegiat...

Mengapa Akhlak Datang Sebelum Prestasi?

  Artikel 6 dari Islamic Excellence Series — Penutup Seri Jika suatu hari Anda harus memilih dua lulusan yang sama-sama cerdas, sama-sama berprestasi, tetapi salah satunya lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih dapat dipercaya — siapa yang akan Anda pilih? Hampir semua orang akan memilih yang kedua. Menariknya, kita sering mengatakan bahwa akhlak itu penting. Namun dalam praktik pendidikan, kita justru lebih sering merayakan prestasi. Piala dipajang. Nilai diumumkan. Medali difoto. Sementara kejujuran, amanah, dan empati sering kali tumbuh tanpa tepuk tangan. Padahal justru itulah yang akan menentukan kualitas seseorang sepanjang hidupnya. Prestasi Membuka Pintu, Akhlak Menentukan Seberapa Lama Pintu Itu Tetap Terbuka Prestasi dapat membawa seseorang diterima di universitas terbaik. Prestasi dapat membuka peluang karier. Prestasi dapat membuat seseorang dikagumi. Namun akhlaklah yang membuat seseorang dipercaya. Dan dalam kehidupan, kepercayaan jauh lebih s...

Membangun Dynamic Muslims di Era AI

  Artikel 5 dari Islamic Excellence Series Beberapa waktu lalu, saya melihat seorang siswa duduk lama di depan laptopnya, tugas esai belum juga dimulai, sementara jendela AI terbuka di sebelahnya. Saya tidak menegurnya. Saya hanya penasaran apa yang akan ia lakukan. Yang terjadi kemudian sederhana, tapi menarik: ia bertanya ke AI, membaca jawabannya, lalu menutup jendela itu dan mulai menulis dengan kata-katanya sendiri. Ketika saya tanya kenapa, ia bilang, "Rasanya nggak jujur kalau saya kumpulkan tulisan yang bukan pikiran saya, Pak." Bukan aturan yang menahannya. Bukan takut ketahuan. Sesuatu yang lain. Beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari akan ada mesin yang mampu menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik. Hari ini, itu sudah menjadi kenyataan. Artificial Intelligence dapat menjelaskan konsep Fisika, menulis esai, menerjemahkan berbagai bahasa, membuat program komputer, bahkan membantu menyusun rencana bisnis. Sem...

Mengapa Siswa Perlu Belajar Bahasa Arab?

  Artikel 4 dari Islamic Excellence Series "Yang penting kan bisa baca Qur'an, Pak. Buat apa sampai belajar Bahasa Arab segala?" Seorang orang tua pernah mengatakan ini kepada saya, dengan nada yang sama sekali tidak bermaksud menyepelekan — ia betul-betul berpikir bahwa kemampuan melafalkan huruf Arab dengan tajwid yang benar sudah cukup. Dan untuk banyak keperluan, memang cukup. Tapi ada perbedaan besar antara bisa membaca dan bisa memahami. Dan perbedaan itulah yang menjadi alasan mengapa Bahasa Arab, di Syafana, bukan sekadar pelengkap dari kemampuan mengaji. Bisa Membaca Bukan Berarti Memahami Seorang siswa bisa fasih melafalkan ayat Al-Qur'an dari awal sampai akhir, dengan tajwid yang rapi, tanpa benar-benar mengerti satu kata pun dari apa yang ia baca. Ini bukan kegagalan — ini memang batas dari apa yang bisa dicapai lewat kemampuan membaca huruf Arab saja. Al-Qur'an diturunkan dalam Bahasa Arab. Bukan diterjemahkan ke Bahasa Arab — diturunkan d...

Mengapa Tahfidz Bukan Program Tambahan

  Artikel 3 dari Islamic Excellence Series Beberapa kali saya bertemu orang tua yang bertanya, "Pak, kalau anak saya tidak ingin menjadi hafidz 30 juz, apakah tetap harus masuk program tahfidz?" Dari pertanyaan itu saya menyadari bahwa banyak orang masih melihat tahfidz sebagai program khusus bagi siswa tertentu, bukan sebagai bagian dari pendidikan Islam itu sendiri. Di banyak sekolah, program tahfidz sering ditempatkan di kategori yang sama dengan ekstrakurikuler lain — pilihan bagi siswa yang berminat, di luar jam pelajaran utama, tidak mempengaruhi jadwal inti. Saya memahami logika di baliknya. Waktu belajar terbatas, dan setiap sekolah harus membuat pilihan tentang apa yang masuk ke jam wajib dan apa yang menjadi opsional. Tapi ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu diajukan lebih dulu: kalau Al-Qur'an adalah petunjuk hidup, mengapa interaksi dengannya kita tempatkan sebagai tambahan? Al-Qur'an sebagai Pusat, Bukan Pelengkap Di artikel sebelumn...