PADA SAAT SEORNG GURU HANYA MENJADI PENGAJAR
Saat ini, semakin banyak pendidik yang memilih kembali sekadar menjadi pengajar. Bukan karena mereka tak lagi peduli, melainkan karena ruang untuk mendidik terasa semakin sempit.
Guru yang berbicara tegas demi membentuk karakter bisa
berujung persoalan hukum. Guru yang memberi tugas lebih dianggap membebani.
Bahkan niat mendisiplinkan atau memberi perhatian sering kali disalahartikan
dan dipermasalahkan. Teguran dianggap kekerasan, tugas disebut eksploitasi,
kepedulian pun bisa berujung laporan.
Dalam kondisi seperti ini, banyak guru akhirnya mengambil
jalan paling aman: mengajar sebatas menyampaikan materi, tanpa berani menyentuh
ranah pembentukan sikap dan karakter. Padahal, pendidikan sejatinya bukan hanya
soal transfer ilmu, tetapi juga proses mendewasakan manusia.
Ketika guru dipaksa terus-menerus berada dalam posisi takut,
maka yang hilang bukan hanya wibawa pendidik, tetapi juga ruh pendidikan itu
sendiri.
Ketika guru hanya berani mengajar tanpa mendidik, mungkin
yang sedang kita lindungi bukan masa depan anak, melainkan ketakutan kita
sendiri.
Komentar
Posting Komentar