PADA SAAT SEORNG GURU HANYA MENJADI PENGAJAR

 Saat ini, semakin banyak pendidik yang memilih kembali sekadar menjadi pengajar. Bukan karena mereka tak lagi peduli, melainkan karena ruang untuk mendidik terasa semakin sempit.

Guru yang berbicara tegas demi membentuk karakter bisa berujung persoalan hukum. Guru yang memberi tugas lebih dianggap membebani. Bahkan niat mendisiplinkan atau memberi perhatian sering kali disalahartikan dan dipermasalahkan. Teguran dianggap kekerasan, tugas disebut eksploitasi, kepedulian pun bisa berujung laporan.

Dalam kondisi seperti ini, banyak guru akhirnya mengambil jalan paling aman: mengajar sebatas menyampaikan materi, tanpa berani menyentuh ranah pembentukan sikap dan karakter. Padahal, pendidikan sejatinya bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga proses mendewasakan manusia.

Ketika guru dipaksa terus-menerus berada dalam posisi takut, maka yang hilang bukan hanya wibawa pendidik, tetapi juga ruh pendidikan itu sendiri.

Ketika guru hanya berani mengajar tanpa mendidik, mungkin yang sedang kita lindungi bukan masa depan anak, melainkan ketakutan kita sendiri.

Inspired by Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang H. Dadan Gandana, S.STP., M.Si.

Mr. Sai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN

COVID 19: Orang Tua Menjadi Guru

Om Jay Bebagi Tentang Esei Tiga Alenia