Ketika Setiap Departemen Merasa Paling Bekerja Keras
Coba anda masuk ke organisasi mana pun, dan Anda akan mendengar cerita yang sama.
Satu departemen merasa merekalah yang memikul beban paling
berat. Mereka pulang paling malam, menyelesaikan masalah paling besar, menjawab
permintaan paling banyak, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Mungkin mereka
benar.
Tapi kemudian departemen lain menceritakan kisah yang persis
sama.
Saya sudah cukup sering duduk di rapat pimpinan untuk tahu
ini bukan kebetulan. Bukan berarti satu tim melebih-lebihkan sementara tim lain
jujur. Setiap tim sebenarnya sedang berkata jujur — dari sudut pandang mereka
masing-masing.
Pandangan dari Dalam Pekerjaan Sendiri
Tim akademik melihat jam-jam panjang menyusun bahan ajar,
memeriksa tugas, dan melayani orang tua yang ingin membicarakan nilai anaknya
pukul sembilan malam. Tim operasional melihat gedung yang harus tetap berjalan,
vendor yang harus dikelola, dan masalah-masalah kecil yang harus dipadamkan
sebelum orang lain sempat tahu ada masalah. Front office melihat orang tua yang
berdiri di depan meja, kesal, saat itu juga, membutuhkan jawaban yang belum
tentu ada di tangan mereka.
HRD melihat dengan cara yang berbeda lagi. Diam-diam mereka
merasa seluruh organisasi berjalan karena mereka — merekalah yang merekrut
orang, menangani setiap konflik antar rekan kerja, memproses setiap surat
pengunduran diri, dan menampung persoalan pribadi orang lain sebagai bagian
dari pekerjaan mereka. Di mata mereka, tidak ada yang bergerak tanpa HRD yang
menjaganya tetap utuh.
Finance melihat sesuatu yang sama sekali berbeda. Mereka
mengawasi setiap rupiah yang masuk dan keluar. Mereka tahu departemen mana yang
boros anggaran, tagihan mana yang jatuh tempo, dan seberapa dekat organisasi
pernah berada di ambang masalah arus kas yang bahkan tidak disadari orang lain.
Bagi mereka, semua orang lain hanyalah pihak yang membelanjakan uang yang telah
dikelola Finance dengan penuh tanggung jawab.
General Affairs (GA) punya keyakinan diamnya sendiri.
Merekalah yang memastikan listrik menyala, AC berfungsi, satpam datang tepat
waktu, kendaraan terawat, dan setiap kebutuhan fisik sekolah terpenuhi sebelum
ada yang perlu bertanya dua kali. Bagi GA, seluruh organisasi akan berhenti
berjalan tanpa mereka — namun kebanyakan orang baru menyadari keberadaan GA
ketika ada sesuatu yang hilang, bukan ketika semuanya berjalan lancar tanpa
terlihat.
Masing-masing benar tentang beban kerjanya sendiri. Yang
tidak bisa mereka lihat — yang secara alami tidak bisa dilihat siapa pun —
adalah beban kerja orang lain.
Kita mengalami tekanan kerja kita sendiri secara sangat
detail: lembur semalam, percakapan sulit, tenggat waktu yang nyaris terlewat.
Sementara pekerjaan orang lain tetap sebagian besar tidak terlihat bagi kita,
tereduksi menjadi sekadar jabatan dan tebakan tentang seberapa berat pekerjaan
itu.
Ini bukan cacat karakter. Ini semata cara kerja perhatian
manusia. Kita adalah tokoh utama dalam cerita yang kita ceritakan tentang diri
sendiri, dan setiap departemen lain hanyalah pemeran pendukung yang belum
benar-benar kita kenal.
Ilusi yang Diam-Diam Mengakar
Jika dibiarkan tanpa disadari, ini menciptakan ilusi yang
berbahaya: Kamilah yang bekerja paling keras. Kamilah yang berkontribusi
paling banyak. Kamilah yang paling layak mendapat pengakuan.
Begitu pola pikir ini mengakar, sesuatu yang halus namun
merusak mulai terjadi. Kolaborasi perlahan berubah menjadi kompetisi.
Departemen berhenti bertanya, "Bagaimana kami bisa membantu?" dan
mulai bertanya, "Kenapa mereka tidak bekerja sebanyak kami?"
Saya pernah menyaksikan hal ini terjadi di sekolah, sama
seperti di perusahaan mana pun. Tim pengajar diam-diam kesal pada tim
administrasi karena "hanya" mengurus berkas, tanpa pernah melihat
tenggat regulasi, persyaratan perlindungan data, atau keluhan orang tua yang
tidak pernah sampai ke ruang kelas. Sementara itu, tim administrasi
bertanya-tanya mengapa guru membutuhkan begitu banyak dukungan untuk sesuatu
yang "kan cuma mengajar di kelas."
Tidak ada satu pun dari ini yang diucapkan terang-terangan
di rapat. Ia terbangun diam-diam — dalam obrolan di lorong, dalam nada sebuah
pesan, dalam siapa yang diucapkan terima kasih di depan semua orang dan siapa
yang tidak.
Yang Sesungguhnya Membedakan Organisasi Hebat
Organisasi hebat tidak berhasil karena satu departemen
bekerja lebih keras dari yang lain. Mereka berhasil karena setiap departemen
memahami satu hal sederhana: tanggung jawab yang berbeda tidak berarti nilai
yang berbeda.
Orang yang menjawab telepon di front office dan orang yang
memimpin komite kurikulum sama-sama tidak tergantikan — bukan meski pekerjaan
mereka berbeda, justru karena perbedaan itu. Organisasi tidak berjalan karena
semua orang melakukan pekerjaan yang sama dengan baik. Ia berjalan karena
pekerjaan setiap orang yang berbeda-beda itu saling terhubung.
Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari bertahun-tahun
bekerja di sisi akademik sekaligus HR di sebuah sekolah, itu adalah ini: begitu
pimpinan mulai memperlakukan sebagian fungsi sebagai "inti" dan
sebagian lain hanya sebagai "pendukung," ilusi kedua sudah menang.
Tiga Pergeseran yang Bisa Dilakukan Pimpinan
Ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memo yang meminta
semua orang saling menghargai. Ini membutuhkan pimpinan yang mau mengubah apa
yang terlihat dan apa yang dihargai.
Buat pekerjaan yang tidak terlihat menjadi terlihat.
Ciptakan momen rutin dan terstruktur di mana setiap departemen menjelaskan —
secara singkat dan konkret — apa yang benar-benar mereka kerjakan dan hadapi
minggu atau bulan itu. Bukan untuk berlomba mencari simpati, tetapi agar
gambaran di kepala semua orang semakin mendekati kenyataan.
Definisikan ulang apa yang dihargai oleh pengakuan.
Jika pengakuan selalu jatuh pada siapa yang paling vokal soal kesibukannya,
yang akan Anda dapatkan adalah lebih banyak pertunjukan kesibukan dan lebih
sedikit kerja yang benar-benar penting namun senyap. Hargai kontribusi terhadap
hasil yang menjadi kepentingan seluruh organisasi — bukan sekadar upaya yang
terlihat di dalam satu silo saja.
Ajukan pertanyaan yang berbeda dalam rapat. Alih-alih
bertanya "siapa yang memikul beban paling berat sekarang," tanyakan
"apa yang dibutuhkan organisasi selanjutnya, dan siapa yang paling tepat
membantu?" Pertanyaan pertama menumbuhkan perbandingan. Pertanyaan kedua
menumbuhkan kolaborasi.
Sibuk Itu Terlihat. Nilai Itulah yang Sesungguhnya
Penting.
Kepemimpinan dimulai ketika kita berhenti mengukur siapa
yang memikul beban paling berat, dan mulai bertanya bagaimana pekerjaan kita
membantu seluruh organisasi bergerak maju.
Setiap departemen yang pernah mengeluh merasa kurang
dihargai, dalam artian tertentu, benar — karena penghargaan memang tidak pernah
dibagikan secara merata sejak awal. Penghargaan selalu jatuh pada siapa yang
paling mudah terlihat.
Tugas seorang pemimpin adalah memastikan seluruh organisasi
akhirnya bisa melihat dirinya sendiri secara utuh — bukan hanya bagian yang
kebetulan sedang ditempati masing-masing orang.
Komentar
Posting Komentar