SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI (revisited)
Catatan Penulis (2026)
Tulisan ini pertama kali saya tulis sekitar enam tahun yang lalu ketika mengenang pengalaman memimpin SMP/SMA Highfield Cirebon. Saya mempertahankan sebagian besar isi tulisan sebagaimana aslinya karena mencerminkan cara pandang saya pada masa itu. Hanya ada sedikit penyuntingan bahasa agar lebih nyaman dibaca. Satu keyakinan yang tetap saya pegang hingga hari ini adalah bahwa sekolah yang baik bukan hanya mengejar prestasi, tetapi juga membantu setiap anak bertumbuh sesuai potensi yang dimilikinya.
Hampir semua sekolah di negeri ini berlomba mengejar prestasi akademik. Terlebih bagi sekolah swasta, prestasi sering menjadi cara untuk membangun kepercayaan masyarakat dan menarik calon siswa.
Ketika pertama kali saya dipercaya memimpin SMP/SMA Highfield Cirebon, saya pun datang dengan ambisi yang sama. Saya ingin siswa-siswa Highfield meraih prestasi akademik setinggi mungkin.
Namun, hanya dalam waktu beberapa bulan, saya menyadari bahwa saya harus mengubah cara pandang tersebut. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena saya mulai memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan jalan hidup yang berbeda. Tugas sekolah bukan menyeragamkan mereka, melainkan membantu mereka menemukan versi terbaik dari dirinya masing-masing.
Mengenali minat dan bakat siswa menjadi pekerjaan pertama yang saya lakukan. Hanya dalam waktu sekitar dua bulan, saya mulai mengenal mereka satu per satu. Saya ingin memahami siapa mereka, apa yang mereka sukai, apa cita-cita mereka, dan seperti apa latar belakang kehidupan mereka.
Secara akademik memang hanya beberapa siswa yang menonjol. Namun saya melihat sesuatu yang jauh lebih berharga. Di balik setiap siswa ada potensi yang belum tergali. Tatapan mata mereka menyimpan harapan. Harapan agar guru dan kepala sekolah mau melihat mereka sebagai pribadi yang utuh.
Seolah-olah mereka sedang berkata, "Kami berbeda. Tolong jangan samakan kami."
Dari situlah arah sekolah mulai berubah.
Kami mulai bertanya, "Apa yang membuat anak-anak ini bersemangat datang ke sekolah?"
Jawabannya berbeda-beda.
Ada yang hidup ketika bermain musik.
Ada yang bersinar ketika berdebat.
Ada yang menemukan rasa percaya dirinya saat melukis.
Ada pula yang benar-benar menikmati tantangan akademik.
Lalu kami berusaha memfasilitasi semuanya.
Kami membentuk H-Band dan paduan suara. Kami membuat kelompok debat. Kami menyediakan dinding lorong sekolah sebagai kanvas bagi siswa yang gemar melukis. Kami membentuk Science Club bagi mereka yang mencintai sains. Bagi yang ingin belajar memimpin, ada Student Council (OSIS). Banyak kegiatan lain lahir secara spontan mengikuti kebutuhan dan minat siswa, bukan sekadar mengikuti program tahunan yang sudah baku.
Bahasa Inggris telah menjadi bahasa komunikasi sehari-hari di sekolah kami. Karena itu, ketika ada lomba pidato Bahasa Inggris, siswa hanya perlu memperdalam kemampuan berbicara mereka. Alhamdulillah, beberapa kali kami berhasil meraih juara pertama.
Guru-guru dan siswa Highfield adalah pribadi-pribadi yang dinamis. Karena itu, proses belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas.
Kami belajar di sungai, di kampung nelayan, di pegunungan, di pasar, di festival Maulid, di sekolah lain, bahkan di kampung-kampung sekitar sekolah.
Untuk mata pelajaran Business Studies, kami benar-benar berjualan. Guru dan siswa patungan membuka usaha kecil. Kami mengunjungi bank untuk belajar langsung dari para pegawainya. Kami mendatangi perusahaan yang baru berdiri untuk memahami bagaimana sebuah usaha dirintis. Kami juga mengunjungi perusahaan besar agar siswa dapat melihat bagaimana sebuah organisasi dikelola secara profesional.
Kami ingin siswa belajar dari kehidupan, bukan hanya dari buku.
Yang paling menyenangkan adalah melihat para siswa menikmati semua proses itu. Guru pun ikut menikmati. Para pengusaha yang kami kunjungi juga senang berbagi pengalaman.
Saya semakin yakin bahwa rasa senang adalah salah satu pintu masuk terbaik menuju pembelajaran. Ketika anak merasa bahagia, mereka lebih mudah menerima pelajaran, lebih berani mencoba, dan lebih siap menghadapi tantangan.
Saya tidak pernah menganggap motivasi siswa kami rendah. Mereka jarang membolos. Mereka mendengarkan guru dengan baik. Mereka mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.
Yang mereka butuhkan hanyalah bimbingan yang sabar.
Mereka perlu dibiasakan menjawab pertanyaan dengan lebih lengkap dan terstruktur karena sebelumnya mereka lebih terbiasa memberikan jawaban yang singkat, baik secara lisan maupun tulisan.
Perubahan itu memang tidak mudah.
Namun sedikit demi sedikit mereka berkembang.
Sedikit demi sedikit kepercayaan diri mereka tumbuh.
Salah satu hal yang juga saya yakini hingga hari ini adalah bahwa beban terbesar siswa sering kali justru dimulai ketika mereka pulang dari sekolah.
Mereka sudah belajar dari pagi hingga sore.
Sebagian masih harus menempuh perjalanan panjang menuju rumah.
Sesampainya di rumah, masih menunggu pekerjaan rumah yang tidak sedikit.
Saya sering bertanya kepada diri sendiri, apakah sekolah benar-benar perlu menghabiskan seluruh energi anak?
Bukankah mereka juga membutuhkan waktu untuk beristirahat?
Untuk bermain?
Untuk berbincang dengan keluarga?
Untuk menikmati masa remajanya?
Jangan batasi dunia mereka hanya dengan ruang kelas. Berikan mereka kesempatan mengenal kehidupan yang sesungguhnya, karena di sanalah banyak pelajaran penting justru ditemukan.
Saya sangat bersyukur memiliki Direktur, Ibu Diana Sutjito, yang memberikan dukungan penuh terhadap pendekatan yang kami lakukan.
Beliau memahami kondisi siswa kami dan memberi ruang bagi mereka untuk berkembang.
Yayasan menyediakan perlengkapan band sederhana, mendukung berbagai perlombaan tanpa menetapkan target harus menjadi juara, bahkan mengizinkan siswa melukis dinding lorong sekolah sebagai media berekspresi.
Kepercayaan itu memberi semangat besar bagi kami.
Demikian pula para orang tua.
Mereka memahami kemampuan anak-anak mereka dan mempercayakan proses pendidikan kepada sekolah.
Kalimat yang paling menguatkan saya adalah:
"Didiklah anak saya semampu guru-guru di Highfield."
Kalimat sederhana itu justru menjadi amanah yang sangat besar bagi kami.
Guru-guru Highfield saat itu sebagian besar masih muda dan belum memiliki pengalaman mengajar yang panjang. Namun justru di situlah kekuatannya.
Jarak usia yang tidak terlalu jauh membuat hubungan guru dan siswa terasa akrab. Para siswa tidak segan bercerita tentang berbagai persoalan hidup mereka. Guru menjadi tempat bertanya, sekaligus tempat bersandar.
Hubungan yang hangat itu juga terjaga karena yayasan tidak pernah membebankan urusan penagihan keuangan kepada guru. Semua urusan administrasi tetap ditangani oleh bagian keuangan sehingga hubungan guru dengan orang tua tetap terpelihara dengan baik.
Lalu, apakah karena kami tidak terlalu terobsesi pada prestasi akademik, kami gagal dalam bidang akademik?
Ternyata tidak.
Pada Ujian Nasional pertama yang diikuti sekolah kami, SMP Highfield berhasil menempati peringkat keenam se-Kota Cirebon.
Bagi sekolah yang baru berdiri, itu adalah pencapaian yang sangat kami syukuri.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa tidak membebani bukan berarti tidak disiplin.
Tidak membebani bukan berarti tidak belajar.
Tidak membebani bukan berarti membiarkan.
Tidak membebani berarti menciptakan suasana di mana siswa menikmati proses belajar, merasa dihargai, dan memiliki alasan untuk datang ke sekolah setiap pagi.
Banyak orang masih mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari prestasi akademik.
Saya tidak sepenuhnya sependapat.
Kehidupan telah menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor atau peringkat di kelas.
Belajar terjadi bukan hanya di ruang kelas.
Belajar juga terjadi ketika anak bermain, berdiskusi, menyelesaikan konflik dengan temannya, mengikuti lomba, bekerja sama, gagal, bangkit kembali, dan menghadapi kehidupan sehari-hari.
Mungkin justru pelajaran-pelajaran itulah yang paling lama mereka ingat.
Bertahun-tahun kemudian, saya semakin yakin bahwa keputusan untuk membangun sekolah yang tidak membebani adalah keputusan yang tepat.
Kami tetap belajar dengan serius.
Kami tetap menjaga disiplin.
Kami tetap mengejar kualitas.
Namun kami berusaha memastikan bahwa setiap anak merasa diterima, dihargai, dan memiliki ruang untuk bertumbuh.
Karena pada akhirnya, yang paling diingat siswa bukanlah berapa banyak soal yang mereka kerjakan.
Yang mereka ingat adalah bagaimana sekolah membuat mereka merasa berarti.
Dan mungkin, itulah arti sesungguhnya dari sebuah sekolah yang tidak membebani.
Educate the mind. Build character. Strengthen the soul.
Sainur Rahim, M.Ed.
Komentar
Posting Komentar