Apa Arti Islamic Excellence di Syafana?
Artikel 1 dari Islamic Excellence Series
"Pak, kalau Islamic Excellence, berarti jam
pelajaran agamanya ditambah ya?"
Pertanyaan ini pernah diajukan seorang orang tua
saat sesi Open House. Saya paham mengapa pertanyaan itu muncul — kata
"excellence" sering dikaitkan dengan porsi, seolah semakin unggul
berarti semakin banyak. Semakin banyak jam pelajaran agama, semakin banyak
hafalan, semakin banyak simbol-simbol keislaman yang terlihat.
Tapi jawaban saya selalu sama: bukan itu.
Islamic Excellence bukanlah tentang menambah jam
pelajaran agama. Islamic Excellence adalah memastikan bahwa seluruh proses
pendidikan—apa pun mata pelajarannya—mengantarkan siswa semakin mengenal Allah.
Bagi kami, pendidikan bukan sekadar proses menambah
pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Dan dalam Islam,
manusia tidak diciptakan hanya untuk menjadi cerdas atau sukses, tetapi untuk
mengenal, menyembah, dan menjadi khalifah Allah di bumi. Karena itu, setiap
ilmu yang dipelajari seharusnya membawa seseorang semakin mengenal Penciptanya,
bukan semakin jauh dari-Nya.
Dengan cara pandang inilah kami melihat seluruh
kurikulum di Syafana. Tidak ada ilmu yang benar-benar netral dari nilai, karena
setiap ilmu pada akhirnya membentuk cara manusia memandang dirinya, sesamanya,
dan Tuhannya.
Bukan
Sekadar PAI
Di banyak sekolah, pendidikan Islam sering dipahami
sempit: cukup diwakili oleh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, diajarkan
beberapa jam seminggu, dinilai lewat ujian tertulis, lalu selesai.
Saya tidak sedang meremehkan PAI. Mata pelajaran
itu tetap penting, dan siswa tetap perlu memahami fikih, akidah, dan sejarah
Islam secara terstruktur. Tapi kalau pendidikan Islam berhenti di situ, ada
satu kekeliruan besar yang sedang terjadi: seolah keislaman seorang siswa hanya
relevan selama jam pelajaran PAI berlangsung, dan tidak relevan ketika ia
sedang mengerjakan soal Matematika, berdiskusi di kelas Fisika, atau memimpin
rapat OSIS.
Padahal Islam bukan sekadar mata pelajaran. Islam
adalah cara memandang ilmu, kehidupan, dan tujuan manusia belajar. Karena itu,
keislaman tidak berhenti ketika jam PAI selesai. Ia seharusnya hadir ketika
siswa mempelajari Matematika, Fisika, Biologi, memimpin organisasi, bahkan
ketika mengambil keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali
ke Academic Excellence, dengan Pertanyaan Berbeda
Di seri sebelumnya, saya menulis tentang Academic
Excellence — tentang bagaimana kami membangun kemampuan berpikir siswa lewat
Critical Thinking dan Creativity. Seri itu menjawab pertanyaan bagaimana:
bagaimana siswa belajar berpikir, bagaimana mereka dipersiapkan menghadapi
dunia yang terus berubah.
Islamic Excellence menjawab pertanyaan yang
berbeda, dan menurut saya jauh lebih mendasar: bukan bagaimana menjadi pintar,
tetapi bagaimana ilmu yang dimiliki seseorang mengantarkannya semakin dekat
kepada Allah.
Academic Excellence membangun kompetensi. Islamic
Excellence membangun kompas.
Seseorang bisa memiliki kemampuan berpikir kritis
yang tajam, kreativitas yang luar biasa, dan nilai akademik yang sempurna —
tapi tanpa kompas yang benar, semua kemampuan itu bisa diarahkan ke mana saja,
termasuk ke arah yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Inilah yang
membuat Islamic Excellence, bagi kami, bukan pelengkap Academic Excellence,
melainkan yang memberi arah kepadanya.
Mengapa
Akhlak Ada di Urutan Pertama
Kalau Anda memperhatikan Profil Lulusan Syafana —
A² + 4C — Anda akan menyadari satu hal yang mungkin belum terlalu diperhatikan:
Akhlak diletakkan sebagai huruf pertama, sebelum Adaptability, sebelum Critical
Thinking, sebelum semua kompetensi lainnya.
Ini bukan kebetulan urutan abjad.
Kecerdasan tanpa akhlak tidak akan membawa
keberkahan. Seseorang yang sangat kompeten tapi tidak berakhlak bisa jadi lebih
berbahaya daripada seseorang yang biasa-biasa saja — karena kompetensinya
justru memberi daya lebih besar untuk hal yang salah. Karena itu, sebelum kami
bicara tentang kemampuan berpikir, berkomunikasi, atau berkolaborasi, kami
selalu kembali dulu ke satu pertanyaan: apakah ilmu ini akan dipakai dengan
akhlak yang baik?
Saya akan membahas ini lebih dalam di artikel
terakhir seri ini. Tapi penting untuk disebutkan di sini, sejak awal, karena
inilah jiwa dari seluruh Islamic Excellence Series.
Menuju
Dynamic Muslims
Semua yang kami bangun lewat Islamic Excellence —
pendidikan keislaman yang komprehensif, interaksi dengan Al-Qur'an,
pembelajaran Bahasa Arab, dan berbagai program keislaman lainnya — pada
akhirnya mengarah ke satu tujuan: membentuk Dynamic Muslims.
Dynamic Muslims bukan sekadar siswa yang taat
menjalankan ibadah, meskipun itu penting. Bagi kami, Dynamic Muslims adalah
Muslim yang tetap teguh pada nilai-nilai Islam, namun mampu hidup, belajar,
bekerja, dan memimpin di tengah dunia yang terus berubah. Mereka tidak menarik
diri dari perubahan, tetapi juga tidak kehilangan arah ketika perubahan itu
datang. Mereka mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa
kehilangan iman, akhlak, dan tujuan hidup sebagai seorang Muslim.
Kami tidak hanya ingin siswa mengetahui ajaran
Islam. Kami ingin mereka bertumbuh menjadi Dynamic Muslims yang menghidupkan
nilai-nilai Islam dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Yang
Akan Dibahas di Seri Ini
Artikel ini adalah gerbang dari Islamic Excellence
Series. Lima artikel berikutnya akan membawa gagasan ini lebih dalam:
●
Pendidikan
Islam yang Kami Impikan —
kerangka iman, ilmu, amal, dan akhlak yang menjadi fondasi seluruh proses
pendidikan di Syafana.
●
Mengapa
Tahfidz Bukan Program Tambahan
— bagaimana interaksi dengan Al-Qur'an menjadi bagian dari fondasi, bukan
sekadar kegiatan ekstra.
●
Mengapa
Siswa Perlu Belajar Bahasa Arab
— alasan yang jauh lebih dalam daripada sekadar bisa membaca Al-Qur'an.
●
Membangun
Dynamic Muslims di Era AI —
tentang batas yang tidak akan pernah bisa dilewati oleh kecerdasan buatan,
betapa pun canggihnya.
●
Mengapa
Akhlak Datang Sebelum Prestasi
— penutup seri, kembali ke huruf pertama dalam A² + 4C.
Kalau Academic Excellence membantu siswa memahami
dunia, maka Islamic Excellence membantu mereka memahami untuk apa ilmu itu
digunakan dan kepada siapa ilmu itu harus dipertanggungjawabkan.
Komentar
Posting Komentar