Apa yang Sebenarnya Menentukan Kualitas Pendidikan?
Kurikulumnya atau Cara Mengajarnya?
Artikel 2 dari Academic
Excellence Series
Ada satu asumsi yang sering muncul, baik secara
terang-terangan maupun diam-diam, di benak orang tua: kurikulum dari luar
negeri pasti lebih baik daripada Kurikulum Nasional. Semakin asing namanya,
semakin meyakinkan kedengarannya — Cambridge, IB, atau kurikulum internasional
lain sering dianggap sebagai jaminan mutu dengan sendirinya.
Saya memahami asumsi ini. Tapi pengalaman saya
selama bertahun-tahun mengajar dan memimpin sekolah mengajarkan saya sesuatu
yang berbeda.
Yang
Saya Pelajari di ILP Jakarta
Sebelum menjadi kepala sekolah, saya menghabiskan
bertahun-tahun mengajar Bahasa Inggris di ILP Jakarta, lalu memperdalam
metodologi mengajar lewat sertifikasi di International House London. Di sana
saya belajar satu hal yang tidak pernah saya lupakan: kurikulum yang paling
canggih sekalipun akan gagal di tangan pengajar yang tidak memahami cara
memberikannya. Sebaliknya, kurikulum yang sederhana bisa menghasilkan
pembelajaran luar biasa di tangan guru yang tahu persis apa yang ia lakukan dan
mengapa.
Saya melihat ini berulang kali. Saya pernah melihat
dua kelas menggunakan buku, silabus, dan target yang sama. Namun, hasil
akhirnya sangat berbeda. Bukan karena siswanya lebih pintar, melainkan karena
pendekatan gurunya berbeda. Yang satu membuat siswa aktif menggunakan bahasa,
sementara yang lain lebih banyak menjelaskan. Pengalaman itu membuat saya
memahami bahwa kualitas pembelajaran lebih banyak ditentukan oleh bagaimana
guru mengajar daripada materi yang diajarkan.
Apa
Kata Penelitian
Pengalaman pribadi ini, ternyata, sejalan dengan
salah satu temuan penelitian pendidikan paling berpengaruh dalam beberapa
dekade terakhir.
John Hattie, lewat sintesis ribuan penelitian
pendidikan dalam skala besar, menemukan bahwa faktor yang paling menentukan
hasil belajar siswa bukanlah kurikulum, bukan pula fasilitas sekolah —
melainkan kualitas pengajaran itu sendiri. Bagaimana seorang guru merancang
pembelajaran, memberikan umpan balik, dan menyesuaikan pendekatannya dengan
kebutuhan siswa, ternyata memberi pengaruh yang jauh lebih besar terhadap hasil
belajar dibandingkan kurikulum apa yang dipakai.
Ini bukan berarti kurikulum tidak penting.
Kurikulum tetap menjadi kerangka yang memberi arah — apa yang harus dipelajari,
dalam urutan seperti apa, dengan standar seperti apa. Tapi kerangka yang baik
tanpa implementasi yang baik hanya akan menghasilkan dokumen yang rapi di atas
kertas, bukan pembelajaran yang benar-benar mengubah cara berpikir siswa.
Temuan ini juga sejalan dengan berbagai diskusi
pengembangan kurikulum di Indonesia. Kurikulum yang baik memang penting, tetapi
kualitas implementasinya di ruang kelas tetap menjadi faktor penentu
keberhasilan belajar siswa.
Mengapa
Kami Tetap Memilih Kurikulum Nasional
Inilah alasan mendasar mengapa Syafana Islamic
School – Upper Secondary tetap menjadikan Kurikulum Nasional sebagai fondasi,
bukan menggantinya dengan kurikulum internasional.
Kurikulum Nasional sudah dirancang dan diuji untuk
konteks Indonesia — selaras dengan sistem pendidikan tinggi di dalam negeri,
dan familiar bagi siswa maupun orang tua. Mengganti fondasi ini dengan
kurikulum asing tidak secara otomatis menghasilkan pendidikan yang lebih baik.
Yang benar-benar menentukan adalah apa yang kami lakukan di atas fondasi itu.
Karena itu, energi kami tidak habis untuk mengejar
label kurikulum tertentu. Kami percaya bahwa sekolah tidak menjadi unggul
karena memiliki label kurikulum tertentu. Sekolah menjadi unggul ketika mampu
mengimplementasikan kurikulumnya secara konsisten melalui guru-guru yang
kompeten, pembelajaran yang bermakna, dan budaya belajar yang kuat.
Ini juga sebabnya artikel ini bukan pembelaan
terhadap Kurikulum Nasional secara khusus. Ini pembelaan terhadap kualitas
pembelajaran itu sendiri — apa pun nama kurikulum yang dipakai. Seandainya
suatu hari nanti Syafana memilih mengadopsi program internasional, prinsip ini
tidak akan berubah: kurikulum apa pun yang dipakai, kualitas pendidikan tetap
ditentukan oleh kualitas guru dan bagaimana pembelajaran itu benar-benar
berlangsung di dalam kelas.
Sebagian dari upaya ini terlihat lewat mata pelajaran
Sains dan Teknologi yang diajarkan dalam Bahasa Inggris — bukan sebagai gimmick
internasional, tapi sebagai bagian dari cara kami membangun Critical Thinking
dan Creativity yang sudah saya jelaskan di artikel pertama seri ini. Saya akan
membahas alasan spesifik di balik pilihan ini lebih dalam pada artikel
berikutnya.
Kurikulum
adalah Peta, Guru adalah Penunjuk Jalan
Ada satu metafora yang sering saya pakai ketika
menjelaskan ini kepada guru-guru di Syafana: kurikulum itu seperti peta, sementara
guru adalah penunjuk jalan.
Peta yang paling detail sekalipun tidak akan
membawa siapa pun ke tujuan tanpa seseorang yang tahu cara membacanya, yang
bisa menyesuaikan rute ketika ada halangan di jalan, dan yang memahami kapan
harus berhenti sejenak supaya rombongan tidak tertinggal. Sebaliknya, penunjuk
jalan yang benar-benar memahami medan bisa membawa rombongan sampai tujuan
bahkan dengan peta yang sederhana.
Kami memilih untuk berinvestasi pada penunjuk
jalannya — pada guru, pada metode, pada pendampingan — sambil tetap memakai
peta yang sudah dikenal baik oleh semua orang yang terlibat dalam perjalanan
itu: Kurikulum Nasional.
Pada akhirnya, orang tua tidak mengirim anaknya ke
sekolah untuk belajar sebuah kurikulum. Mereka mengirim anaknya untuk belajar
dari guru-guru yang akan membimbing, menginspirasi, dan membantu mereka
bertumbuh. Dan di situlah, menurut kami, kualitas pendidikan yang sesungguhnya
dibangun.
Pada artikel berikutnya, saya akan menjelaskan
salah satu bentuk konkret dari investasi ini: mengapa kami memilih mengajarkan
Sains dan Teknologi dalam Bahasa Inggris, dan apa yang sebenarnya ingin kami
bangun lewat pilihan itu.
Komentar
Posting Komentar