Membangun Dynamic Muslims di Era AI
Artikel 5 dari Islamic Excellence Series
Beberapa waktu lalu, saya melihat seorang siswa
duduk lama di depan laptopnya, tugas esai belum juga dimulai, sementara jendela
AI terbuka di sebelahnya. Saya tidak menegurnya. Saya hanya penasaran apa yang
akan ia lakukan.
Yang terjadi kemudian sederhana, tapi menarik: ia
bertanya ke AI, membaca jawabannya, lalu menutup jendela itu dan mulai menulis
dengan kata-katanya sendiri. Ketika saya tanya kenapa, ia bilang, "Rasanya
nggak jujur kalau saya kumpulkan tulisan yang bukan pikiran saya, Pak."
Bukan aturan yang menahannya. Bukan takut ketahuan.
Sesuatu yang lain.
Beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah
membayangkan bahwa suatu hari akan ada mesin yang mampu menjawab hampir semua
pertanyaan dalam hitungan detik. Hari ini, itu sudah menjadi kenyataan.
Artificial Intelligence dapat menjelaskan konsep Fisika, menulis esai, menerjemahkan
berbagai bahasa, membuat program komputer, bahkan membantu menyusun rencana
bisnis.
Semakin hari, kemampuannya semakin mengagumkan.
Lalu muncul satu pertanyaan yang menurut saya jauh
lebih penting daripada sekadar "bagaimana menggunakan AI." Di tengah
semua kemampuannya, apa yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh AI? Dan
momen kecil dengan siswa saya tadi, menurut saya, adalah jawabannya.
AI
Bisa Berpikir, Tetapi Tidak Pernah Bertakwa
AI dapat mengolah informasi. AI dapat mengenali
pola. AI bahkan dapat menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan.
Namun AI tidak pernah memiliki iman. Ia tidak
pernah merasakan kehadiran Allah. Ia tidak pernah bertakwa. Ia tidak pernah
berdoa. Ia tidak pernah membedakan benar dan salah karena kesadaran moral. Ia
hanya menghitung kemungkinan berdasarkan data yang dimilikinya.
Di sinilah letak perbedaan paling mendasar antara
kecerdasan buatan dan manusia. Manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir.
Manusia adalah makhluk yang diberi ruh, hati, dan amanah.
Di seri Academic Excellence, saya menulis tentang
AI dari sudut yang berbeda — tentang mengapa Critical Thinking dan Creativity
tetap menjadi milik manusia meski AI bisa menyusun ulang pola dari data yang
sangat besar. Artikel ini bicara tentang wilayah yang lebih dalam lagi. Bukan
soal apa yang bisa dipikirkan AI, tapi apa yang bisa diyakini dan
dipertanggungjawabkannya — dan di situ, jawabannya selalu: tidak ada.
Dynamic
Muslims di Tengah Dunia yang Berubah
Di artikel pertama seri ini, saya memperkenalkan
istilah Dynamic Muslims. Bagi kami, Dynamic Muslims bukanlah Muslim yang
sekadar mampu mengikuti perubahan zaman. Sebaliknya, mereka adalah Muslim yang
tetap teguh pada iman dan akhlaknya, sambil terus belajar, beradaptasi, dan
memberi manfaat di tengah perubahan yang terus berlangsung.
Teknologi berubah. Profesi berubah. Cara belajar
berubah. Bahkan cara manusia bekerja pun berubah. Tetapi tujuan hidup seorang
Muslim tidak berubah.
Karena itu, pendidikan Islam tidak boleh membuat
siswa takut terhadap perubahan. Sebaliknya, pendidikan Islam harus membekali
mereka agar mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah.
Ketika
AI Menjadi Alat, Bukan Penentu
Di Syafana, kami tidak melihat AI sebagai musuh.
Kami juga tidak menganggap AI sebagai penyelamat.
AI hanyalah alat. Seperti buku. Seperti kalkulator.
Seperti internet. Yang menentukan manfaatnya bukan teknologinya, melainkan
manusia yang menggunakannya.
Karena itu, pertanyaan yang jauh lebih penting
bukanlah "Apakah siswa boleh menggunakan AI?" Tetapi: "Apakah
siswa memiliki akhlak untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab?"
Itulah persis yang terjadi pada siswa yang saya
ceritakan di awal tadi. AI tidak melarangnya menyalin jawaban begitu saja. Yang
menahannya adalah sesuatu yang tidak bisa diajarkan AI kepada dirinya sendiri.
Mengapa
Islamic Excellence Menjadi Semakin Penting
Semakin canggih teknologi, semakin besar pula
kebutuhan manusia akan kompas moral.
AI dapat menulis. AI tidak dapat bertanggung jawab
atas tulisannya.
AI dapat memberikan jawaban. AI tidak dapat
mempertanggungjawabkan jawabannya di hadapan Allah.
AI dapat menghasilkan berbagai kemungkinan
keputusan. AI tidak memiliki niat karena Allah.
Inilah sebabnya saya percaya bahwa kemajuan
teknologi tidak mengurangi pentingnya pendidikan Islam. Justru sebaliknya.
Semakin besar kemampuan manusia mengubah dunia, semakin besar pula kebutuhan
akan iman dan akhlak agar perubahan itu membawa kebaikan.
Kalau Academic Excellence membangun kompetensi, dan
Islamic Excellence membangun kompas — maka di era AI, kompetensi menjadi
semakin mudah didapat, bahkan oleh mesin. Yang tidak pernah bisa digantikan
justru kompasnya.
Knowledge tells us what we can do. Faith tells us
what we should do.
Mendidik
Manusia, Bukan Sekadar Pengguna Teknologi
Tujuan kami bukan sekadar mendidik siswa yang mampu
menggunakan AI. Kami ingin mendidik manusia yang cukup bijaksana untuk memimpin
dunia yang dipenuhi AI.
Mereka menggunakan teknologi tanpa diperbudak
teknologi. Mereka memanfaatkan kecerdasan buatan tanpa kehilangan
kebijaksanaan. Mereka tetap menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai kompas
ketika teknologi menawarkan begitu banyak kemungkinan.
Karena pada akhirnya, yang akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah bukanlah Artificial Intelligence. Tetapi
manusia yang menggunakannya.
Di masa depan, dunia tidak hanya membutuhkan orang
yang mampu menggunakan Artificial Intelligence. Dunia membutuhkan manusia yang
memiliki Natural Integrity.
Menuju
Penutup Seri
Semua pembahasan dalam seri ini — tentang
pendidikan Islam, Tahfidz, Bahasa Arab, hingga Dynamic Muslims — sebenarnya
bermuara pada satu kata yang sejak awal kami letakkan di urutan pertama dalam
Profil Lulusan Syafana: Akhlak.
Karena itu, pada artikel terakhir saya ingin
menjawab pertanyaan yang menjadi penutup seluruh seri ini: mengapa Akhlak
datang sebelum prestasi?
Sainur Rahim, M.Ed.
Komentar
Posting Komentar