Mengapa Akhlak Datang Sebelum Prestasi?

 Artikel 6 dari Islamic Excellence Series — Penutup Seri

Jika suatu hari Anda harus memilih dua lulusan yang sama-sama cerdas, sama-sama berprestasi, tetapi salah satunya lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih dapat dipercaya — siapa yang akan Anda pilih?

Hampir semua orang akan memilih yang kedua.

Menariknya, kita sering mengatakan bahwa akhlak itu penting. Namun dalam praktik pendidikan, kita justru lebih sering merayakan prestasi.

Piala dipajang. Nilai diumumkan. Medali difoto. Sementara kejujuran, amanah, dan empati sering kali tumbuh tanpa tepuk tangan.

Padahal justru itulah yang akan menentukan kualitas seseorang sepanjang hidupnya.

Prestasi Membuka Pintu, Akhlak Menentukan Seberapa Lama Pintu Itu Tetap Terbuka

Prestasi dapat membawa seseorang diterima di universitas terbaik. Prestasi dapat membuka peluang karier. Prestasi dapat membuat seseorang dikagumi.

Namun akhlaklah yang membuat seseorang dipercaya. Dan dalam kehidupan, kepercayaan jauh lebih sulit dibangun daripada prestasi — sekali retak, ia tidak semudah nilai ujian untuk diperbaiki di semester berikutnya.

Rasulullah Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Allah sendiri berfirman tentang beliau dalam QS. Al-Qalam ayat 4: "Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." Akhlak Rasulullah ﷺ bukan sekadar sifat pribadi, melainkan teladan utama yang Allah tegaskan langsung dalam Al-Qur'an.

Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa beliau diutus untuk menciptakan manusia yang paling pintar, paling kaya, atau paling berprestasi. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Itu bukan berarti ilmu dan prestasi tidak penting. Justru akhlaklah yang memberi arah bagi ilmu dan prestasi agar menjadi rahmat, bukan mudarat.

Kalau tujuan risalah kenabian sendiri diletakkan pada penyempurnaan akhlak, rasanya keliru kalau sekolah menempatkan akhlak sebagai pelengkap di urutan terakhir — setelah nilai, setelah prestasi, setelah semua pencapaian lain sudah tercatat rapi di rapor.

Di Era AI, Akhlak Menjadi Semakin Bernilai

Di artikel sebelumnya, saya menulis bahwa AI bisa berpikir, tetapi tidak pernah bertakwa. Ini yang ingin saya bawa lebih jauh di sini.

AI membuat pengetahuan semakin mudah diperoleh. Teknologi membuat keterampilan semakin mudah dipelajari. Tetapi kejujuran, amanah, empati, dan hikmah tetap tidak bisa diunduh.

Semakin mudah manusia menjadi pintar, semakin penting manusia menjadi baik.

Ini bukan kebetulan waktu. Ini justru alasan mengapa Islamic Excellence Series ini kami tulis sekarang, di tengah percepatan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mengapa Syafana Menempatkan Akhlak di Urutan Pertama

Kalau Anda memperhatikan Profil Lulusan Syafana — A² + 4C — Anda akan menemukan Akhlak sebagai huruf pertama, sebelum Adaptability, sebelum Critical Thinking, sebelum semua kompetensi yang saya bahas panjang lebar di Academic Excellence Series.

Ini bukan sekadar urutan dalam sebuah profil lulusan. Ini adalah filosofi pendidikan yang kami pilih dengan sadar.

Karena kami percaya bahwa dunia tidak hanya membutuhkan orang yang sukses. Dunia membutuhkan orang yang sukses sekaligus dapat dipercaya.

Tidak cukup menjadi dokter yang hebat. Ia harus menjadi dokter yang amanah. Tidak cukup menjadi insinyur yang cerdas. Ia harus menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan. Tidak cukup menjadi pemimpin yang kuat. Ia harus memimpin dengan adil.

Menutup Dua Seri Sekaligus

Ketika saya mulai menulis Academic Excellence Series, pertanyaannya adalah bagaimana membangun manusia yang kompeten. Ketika saya mulai menulis Islamic Excellence Series, pertanyaannya bergeser: mengapa kompetensi itu harus diarahkan kepada Allah.

Academic Excellence membangun kompetensi. Islamic Excellence membangun kompas. Dan artikel ini, sebagai penutup keduanya, membawa saya kembali ke titik yang paling awal: kompas itu sendiri, tempat semuanya bermula — Akhlak.

Kami tentu bangga ketika siswa kami diterima di universitas terbaik. Namun kami akan lebih bangga apabila mereka tetap menjaga shalatnya, memegang amanah, berkata jujur, dan memberi manfaat di mana pun mereka berada.

Karena prestasi mungkin membuat seseorang dikenal. Tetapi akhlaklah yang membuat seseorang dikenang.

Di Syafana, kami tidak menempatkan akhlak sebelum prestasi karena kami meremehkan prestasi. Kami menempatkan akhlak sebelum prestasi karena kami percaya bahwa prestasi tanpa akhlak dapat membahayakan, sedangkan akhlak akan memberi arah bagi setiap prestasi.

Karena pada akhirnya, dunia akan mengingat apa yang kita capai. Tetapi Allah akan menghisab bagaimana kita mencapainya.

 

Sainur Rahim, M.Ed.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS UNTUK KEPENTINGAN MENULIS ITU SENDIRI

SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN