Mengapa Tahfidz Bukan Program Tambahan

 Artikel 3 dari Islamic Excellence Series

Beberapa kali saya bertemu orang tua yang bertanya, "Pak, kalau anak saya tidak ingin menjadi hafidz 30 juz, apakah tetap harus masuk program tahfidz?"

Dari pertanyaan itu saya menyadari bahwa banyak orang masih melihat tahfidz sebagai program khusus bagi siswa tertentu, bukan sebagai bagian dari pendidikan Islam itu sendiri.

Di banyak sekolah, program tahfidz sering ditempatkan di kategori yang sama dengan ekstrakurikuler lain — pilihan bagi siswa yang berminat, di luar jam pelajaran utama, tidak mempengaruhi jadwal inti.

Saya memahami logika di baliknya. Waktu belajar terbatas, dan setiap sekolah harus membuat pilihan tentang apa yang masuk ke jam wajib dan apa yang menjadi opsional.

Tapi ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu diajukan lebih dulu: kalau Al-Qur'an adalah petunjuk hidup, mengapa interaksi dengannya kita tempatkan sebagai tambahan?

Al-Qur'an sebagai Pusat, Bukan Pelengkap

Di artikel sebelumnya, saya menulis bahwa pendidikan Islam adalah perjalanan Iman → Ilmu → Amal → Akhlak. Al-Qur'an bukan salah satu bahan bacaan dalam perjalanan itu. Al-Qur'an adalah pusatnya — sumber dari mana iman diperkuat, ilmu diarahkan, amal dituntun, dan akhlak dibentuk.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hijr ayat 9: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kamilah yang menjaganya." Allah menjaga Al-Qur'an melalui banyak cara. Salah satunya melalui hati orang-orang yang menghafalnya. Ketika seorang siswa menghafal Al-Qur'an, ia bukan hanya sedang melatih memorinya, tetapi ikut mengambil bagian dalam tradisi panjang penjagaan wahyu yang telah berlangsung selama lebih dari empat belas abad.

Karena itu, di Syafana, Tahfidz Al-Qur'an bukan kegiatan yang berdiri di pinggir kurikulum. Ia bagian dari fondasi pendidikan keislaman yang diikuti oleh seluruh siswa, sejajar dengan PAI dan Bahasa Arab — bukan menunggu siswa punya waktu luang untuk menyentuhnya.

Dua Hal yang Perlu Dibedakan

Supaya tidak menimbulkan kesan berlebihan, saya ingin membedakan dua hal yang sering tertukar.

Tahfidz Al-Qur'an sebagai bagian kurikulum adalah pengalaman yang diikuti seluruh siswa — bagian dari bagaimana kami membangun kedekatan dengan Al-Qur'an sejak dini, setara pentingnya dengan mata pelajaran keislaman lainnya. Di Syafana kami menyebutnya Program Tahfidz Regule.

Program Tahfidz 30 Juz adalah jalur lanjutan yang berbeda — diperuntukkan bagi siswa yang ingin mendalami hafalan lebih jauh, dilaksanakan setiap Senin–Sabtu setelah salat Subuh, di luar jam akademik reguler. Ini pilihan, bukan kewajiban seluruh siswa.

Perbedaan ini penting supaya orang tua tidak salah paham bahwa setiap siswa Syafana diwajibkan menghafal 30 juz. Yang wajib adalah interaksi dan kedekatan dengan Al-Qur'an sebagai fondasi. Yang menjadi pilihan adalah seberapa jauh seorang siswa ingin melangkah dalam hafalannya.

Bukan Soal Berapa Banyak yang Dihafal

Ini yang paling sering disalahpahami: tahfidz bukan tentang mengejar angka juz sebanyak-banyaknya.

Seorang siswa yang menghafal sedikit ayat tapi benar-benar memahami maknanya, merenungkannya, dan berusaha menghidupkannya dalam keseharian — jauh lebih berhasil daripada siswa yang menghafal banyak ayat tapi memperlakukannya sekadar sebagai target hafalan yang harus dikejar.

Karena itu, yang kami bangun bukan sekadar kemampuan mengingat teks. Yang kami bangun adalah kedisiplinan — bangun sebelum Subuh, hadir secara konsisten, mengulang hafalan dengan sabar — dan hubungan personal antara siswa dengan Al-Qur'an, yang kelak akan terus mereka bawa jauh setelah mereka lulus dari Syafana dan tidak ada lagi guru yang mengingatkan.

"Apakah Ini Akan Mengganggu Waktu Belajar Akademik?"

Ini kekhawatiran yang wajar, dan saya ingin menjawabnya langsung.

Program Tahfidz 30 Juz sengaja ditempatkan sebelum jam sekolah dimulai — setelah salat Subuh, sebelum kegiatan akademik reguler berjalan. Bukan menggantikan waktu belajar, tapi memanfaatkan waktu yang bagi banyak siswa biasanya justru terbuang. Bagi siswa yang mengikutinya, kami justru sering melihat sebaliknya: kedisiplinan bangun pagi dan konsistensi yang terbangun lewat program ini terbawa ke cara mereka mengatur waktu belajar akademik mereka juga.

Menyambung ke Akhlak

Hubungan dengan Al-Qur'an yang kami bangun ini pada akhirnya kembali ke satu tempat yang sama: Akhlak, huruf pertama dalam Profil Lulusan Syafana: A² + 4C.

Al-Qur'an bukan sekadar teks yang dihafal untuk dipertunjukkan dalam lomba atau wisuda tahfidz. Ia adalah sumber dari mana akhlak yang kami harapkan tumbuh pada setiap siswa — kejujuran, kesabaran, kepedulian, dan kedisiplinan — sesungguhnya berasal.

Pada akhirnya, tujuan kami bukan menghasilkan siswa yang sekadar memiliki hafalan lebih banyak. Kami ingin mereka memiliki hubungan yang semakin dekat dengan Al-Qur'an. Karena hafalan bisa saja berkurang jika tidak diulang, tetapi kecintaan kepada Al-Qur'an — jika sudah tumbuh — akan menemani seseorang sepanjang hidupnya.

Itulah sebabnya Tahfidz di Syafana bukan program tambahan. Ia adalah bagian dari fondasi pendidikan yang kami bangun.

Pada artikel berikutnya, saya ingin membahas satu hal yang sering dianggap sepele oleh orang tua: mengapa siswa Syafana juga perlu mempelajari Bahasa Arab, bukan sekadar bisa membaca Al-Qur'an, tetapi memahami apa yang mereka baca.

 

Sainur Rahim, M.Ed.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI

MENULIS UNTUK KEPENTINGAN MENULIS ITU SENDIRI

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN