Pendidikan Islam yang Kami Impikan
Artikel 2 dari Islamic Excellence Series
Ketika orang mendengar istilah pendidikan Islam,
bayangan yang muncul sering kali hampir sama.
Belajar fikih. Menghafal Al-Qur'an. Belajar Bahasa
Arab. Mempelajari sejarah Islam.
Semua itu penting.
Namun, saya sering bertanya kepada diri sendiri:
apakah pendidikan Islam berhenti sampai di sana?
Kalau seorang siswa mengetahui banyak ayat
Al-Qur'an tetapi tidak jujur, apakah pendidikan Islamnya berhasil?
Kalau seorang siswa memahami banyak hukum fikih
tetapi tidak peduli kepada orang lain, apakah tujuan pendidikan sudah tercapai?
Kalau seorang siswa memperoleh nilai sempurna dalam
PAI tetapi tidak semakin mengenal Allah, apakah kita sudah berhasil
mendidiknya?
Bagi kami di Syafana, jawabannya belum.
Pendidikan
Islam Bukan Sekadar Menambah Pengetahuan
Dalam tradisi Islam, ilmu bukan tujuan akhir. Ilmu
adalah jalan menuju iman yang lebih kuat, amal yang lebih baik, dan akhlak yang
lebih mulia.
Al-Qur'an sendiri memberikan hubungan yang erat
antara iman dan ilmu. Dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11, Allah berfirman bahwa Dia
akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi
ilmu, beberapa derajat. Bagi kami, urutan ini penting. Ilmu bukanlah pengganti
iman, melainkan tumbuh di atas fondasi iman.
Karena itu, kami memandang pendidikan Islam sebagai
perjalanan yang saling berkaitan:
Iman → Ilmu → Amal → Akhlak
Iman menjadi fondasi. Ilmu memberi pemahaman. Amal
menerjemahkan ilmu menjadi tindakan. Akhlak adalah buah yang tampak dalam
kehidupan sehari-hari.
Keempatnya tidak dapat dipisahkan. Ilmu tanpa iman
mudah kehilangan arah. Iman tanpa ilmu mudah kehilangan pijakan. Ilmu dan iman
tanpa amal hanya berhenti sebagai pengetahuan. Dan amal yang tidak melahirkan
akhlak menunjukkan bahwa masih ada yang perlu diperbaiki dalam proses
pendidikan.
Inilah sebabnya, di artikel pertama seri ini, saya
menulis bahwa Akhlak diletakkan sebagai huruf pertama dalam Profil Lulusan
Syafana: A² + 4C. Akhlak bukan kompetensi yang berdiri sendiri — ia adalah buah
akhir dari perjalanan iman, ilmu, dan amal yang saling menguatkan ini.
Cara pandang inilah yang kemudian memengaruhi
bagaimana kami menyusun kurikulum, membangun budaya sekolah, memilih program,
hingga mendampingi siswa setiap hari. Islamic Excellence di Syafana bukanlah
sebuah mata pelajaran tambahan, melainkan perspektif yang menjiwai seluruh
proses pendidikan.
Mengapa
Semua Guru Adalah Guru Pendidikan Islam
Di artikel pertama, saya sempat menyinggung bahwa
keislaman tidak berhenti ketika jam PAI selesai. Di sini saya ingin membawanya
lebih jauh.
Kalau pendidikan Islam hanya terjadi di ruang kelas
PAI, maka sebagian besar waktu belajar siswa justru berlangsung di luar
pendidikan Islam. Kami tidak melihatnya demikian.
Guru Matematika ikut mendidik karakter. Guru Fisika
ikut menanamkan kejujuran ilmiah. Guru Bahasa Inggris ikut membangun adab
berkomunikasi. Guru olahraga ikut mengajarkan sportivitas.
Setiap guru adalah pendidik. Dan setiap ilmu adalah
kesempatan mengenalkan kebesaran Allah.
Ilmu
yang Mendekatkan kepada Allah
Semakin banyak seseorang belajar tentang alam
semesta, seharusnya semakin besar rasa kagumnya kepada Sang Pencipta.
Fisika mengajarkan keteraturan. Biologi
memperlihatkan kompleksitas kehidupan. Matematika menunjukkan keindahan pola.
Teknologi membuka peluang baru sekaligus menghadirkan tanggung jawab baru.
Semua itu bukan sekadar objek yang dipelajari.
Semuanya adalah ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta.
Karena itu, belajar bukan sekadar mengejar nilai.
Belajar adalah bagian dari ibadah.
Pendidikan
Islam Tidak Berakhir Saat Bel Pulang Berbunyi
Tujuan kami bukan menghasilkan siswa yang tampak
religius selama berada di sekolah.
Kami ingin mereka tetap membawa nilai-nilai Islam
ketika berada di rumah, di kampus, di tempat kerja, dan ketika kelak menjadi
pemimpin.
Karena keberhasilan pendidikan Islam tidak diukur
dari apa yang dilakukan siswa ketika guru sedang melihat. Tetapi dari pilihan
yang mereka ambil ketika tidak ada seorang pun yang melihat — kecuali Allah.
Menuju
Artikel Berikutnya
Kalau pendidikan Islam adalah perjalanan iman,
ilmu, amal, dan akhlak, maka Al-Qur'an menjadi pusat dari perjalanan itu.
Karena itulah, pada artikel berikutnya saya ingin
menjawab satu pertanyaan yang juga sering muncul: mengapa Tahfidz di Syafana
bukan sekadar program tambahan, tetapi bagian dari fondasi pendidikan yang kami
bangun?
Sainur Rahim, M.Ed.
Komentar
Posting Komentar