We Call It Krupuk

 

Kesempurnaan itu milik Allah.

Saya semakin percaya bahwa untuk melakukan apa pun—atau mempelajari keterampilan apa pun—kita tidak harus menunggu sempurna untuk memulai.

Yang penting adalah niat, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Saya masih ingat ketika menjadi mahasiswa di ABA Cikini. Saat itu saya banyak belajar grammar. Saya berusaha memahami berbagai aturan bahasa Inggris.

Saya tahu grammar.

Saya tahu banyak tentang bahasa Inggris.

Tetapi ternyata saya belum lancar menggunakannya untuk berkomunikasi.

Suatu hari, sepulang kuliah, seperti biasa saya naik KRL—yang sekarang kita kenal sebagai Commuter Line.

Di dalam kereta, saya duduk bersebelahan dengan beberapa turis Inggris.

Kemudian salah seorang dari mereka bertanya:

"Are you a student?"

Saya langsung keluar keringat dingin.

Semua pengetahuan grammar yang selama ini saya pelajari seolah-olah pergi entah ke mana.

Saya menjawab:

"Me, yes."

😂

Turis itu kemudian bertanya lagi:

"Do you know where to find an inexpensive place to stay?"

Saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Untungnya, teman saya, Ester, yang berasal dari Bogor, langsung membisikkan kepada saya:

"Gue tahu, Nur. Di dekat Stasiun Bogor ada Abu Pension."

Saya tidak tahu dari mana keberanian itu datang.

Saya langsung menjawab:

"We go together there."

Hanya kalimat itu yang keluar.

Turis tersebut menjawab:

"Good."

Dan anehnya, setelah itu percakapan berjalan.

Tentu saja, "berjalan" dalam pengertian yang sangat sederhana.

Kami bercerita ini dan itu tentang Bogor, dengan bahasa Inggris saya yang masih kacau saat itu.

Yang penting, saya terus mencoba berbicara.

Sampai akhirnya kami tiba di Bogor.

Mereka mengajak kami makan terlebih dahulu.

Kami membawa mereka ke sebuah rumah makan kecil.

Di sana ada kerupuk.

Salah seorang dari mereka bertanya tentang makanan itu.

Dan terus terang, saya tidak tahu apa bahasa Inggrisnya kerupuk.

Saat itu tahun 1989.

Belum ada smartphone.

Tidak ada Google.

Tidak ada ChatGPT.

Tidak ada tempat untuk bertanya.

Jadi saya melakukan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan.

Saya menjawab:

"We call it krupuk."

😂

Selesai.

Setelah makan malam, kami mengantar mereka ke Abu Pension. Mereka ingin memberikan uang kepada kami, tetapi kami menolaknya dengan baik.

Sejak saat itu, mencari turis Inggris, Amerika, Australia—atau siapa pun yang bisa menjadi teman latihan bahasa Inggris—menjadi kegiatan rutin saya sepulang kuliah.

Saya sering mengajak teman kuliah dan tetangga saya, Edi.

Kami menikmati proses berbicara dengan mereka.

Kadang-kadang kami juga mendapatkan uang yang lumayan untuk ukuran mahasiswa.

Tetapi tujuan utama saya sebenarnya bukan uang.

Saya ingin berlatih.

Saya ingin berbicara dengan orang asing karena tantangannya jauh lebih besar daripada sekadar menghafal grammar.

Saya harus mendengarkan.

Saya harus memahami.

Saya harus menjawab.

Dan sering kali saya harus menjawab dengan vocabulary yang saya punya—bukan vocabulary yang saya inginkan.

Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian membentuk keberanian saya untuk berbicara di depan umum.

Saya mulai berani melakukan presentasi dalam bahasa Inggris.

Saya juga pernah berbicara dengan perwakilan APEC, meskipun saya sudah lupa tahun berapa.

Kalau saya melihat kembali perjalanan itu sekarang, saya baru menyadari sesuatu.

Saya belajar grammar dengan membaca dan menghafal. Tetapi saya belajar berkomunikasi dengan mencoba.

Saya tidak menunggu sampai bahasa Inggris saya sempurna.

Saya berbicara dengan bahasa Inggris yang saya punya.

Dan ternyata, dari situlah kemampuan saya berkembang.


Start Before You Feel Ready

Pengalaman itu ternyata tidak hanya berlaku untuk belajar bahasa.

Beberapa tahun kemudian, saya mengalaminya lagi ketika belajar menulis.

Awalnya, satu paragraf saja bisa memakan waktu satu jam.

Saya belum tahu bagaimana menulis essay yang baik. Saya belum tahu bagaimana menyusun argumentasi dengan rapi.

Tetapi saya menulis.

Kemudian saya belajar.

Lalu menulis lagi.

Dan belajar lagi.

Sekarang saya juga melihat hal yang sama ketika belajar berlari.

Ketika pertama kali berlari, saya tidak memikirkan pace, running gear, teknik pernapasan, atau berbagai istilah dalam dunia running.

Saya lari.

Ya, lari saja.

Sejalan dengan waktu, saya mulai belajar.

Saya belajar tentang pace.

Saya belajar bagaimana memonitor progres.

Saya mulai memahami bahwa jarak yang berbeda mungkin membutuhkan persiapan yang berbeda.

Saya belajar tentang sepatu, latihan, recovery, dan banyak hal lainnya.

Tetapi semuanya dimulai dengan satu hal sederhana:

Saya mulai berlari.

Menulis juga begitu.

Tulis saja dahulu.

Jangan menunggu menjadi expert.

Jangan menunggu tulisan kita sempurna.

Tulis apa yang kita tahu.

Tulis dari pengalaman kita.

Tulis dari apa yang kita lihat.

Tulis dari apa yang kita pikirkan.

Memang, tentang lari sudah banyak orang menulis.

Tidak masalah.

Kita tidak harus menulis sesuatu yang belum pernah ditulis siapa pun.

Kita bisa menulis tentang hal yang sama dari sudut pandang kita sendiri.

Karena pengalaman kita tidak pernah persis sama dengan pengalaman orang lain.

Begitu juga dengan pendidikan.

Begitu juga dengan leadership.

Begitu juga dengan kehidupan.


We Only See the Expertise

Ada satu hal yang sering kita lupakan.

Ketika melihat seseorang yang sudah expert, kita hanya melihat hasil akhirnya.

Kita tidak melihat awalnya.

Kita tidak melihat berapa kali dia salah.

Berapa kali dia malu.

Berapa kali dia gagal.

Berapa kali dia merasa tidak mampu.

Kita hanya melihat seseorang yang sekarang sudah bisa.

Padahal, tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi expert.

Mereka pasti pernah menjadi pemula.

Mereka pernah melakukan kesalahan.

Mereka pernah membuat kalimat seperti:

"Me, yes."

atau:

"We go together there."

Dan mungkin pernah juga mengatakan:

"We call it krupuk."

😂

Itulah proses.

Kita mulai dengan apa yang kita punya.

Kemudian kita belajar.

Kita memperbaiki.

Kita mencoba lagi.

Dan perlahan-lahan, kemampuan itu tumbuh.


Just Start

Setelah menulis beberapa artikel belakangan ini, saya justru semakin sering melihat ke belakang.

Ternyata banyak hal dalam hidup saya dimulai dengan cara yang sama.

Mulai saja dahulu.

Tidak harus sempurna.

Tidak harus tahu semuanya.

Tidak harus siap sepenuhnya.

Kalau ingin belajar bahasa Inggris, mulai berbicara.

Kalau ingin belajar menulis, mulai menulis.

Kalau ingin belajar berlari, mulai berlari.

Kalau ingin mengembangkan keterampilan apa pun, mulai dari apa yang kita tahu dan apa yang kita punya.

Karena kita tidak akan pernah benar-benar siap.

Kita menjadi lebih siap setelah memulai.

Dan mungkin, inilah pelajaran yang baru saya pahami setelah sekian lama:

The beginning does not have to be perfect. It only has to begin.

Kesempurnaan itu milik Allah.

Kita hanya perlu memulai, berusaha, belajar, dan terus memperbaiki diri.

Mulai saja dahulu.


Educate the mind. Build character. Strengthen the soul. CONSCIOUSLY DO

Sainur Rahim, M.Ed.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS UNTUK KEPENTINGAN MENULIS ITU SENDIRI

SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN