Home-Based Learning, Again
Menghadapi bencana bersama-sama
Hari Minggu sore, 6 September
2026.
Pikiran saya seketika menerawang
kembali ke Maret–April 2020, masa-masa awal pandemi ketika segala sesuatu
terasa asing dan begitu tiba-tiba.
Sebuah surat edaran dari Dinas
Pendidikan Provinsi Banten mendarat di grup WhatsApp kepala sekolah Banten dan
MKKS. Isi surat ini menekankan pada kebijakan PJJ karena di luar sana, ancaman
yang berbeda dari pandemi sedang terjadi. Abu vulkanik akibat erupsi Gunung
Anak Krakatau menyebar cukup luas hingga mencapai wilayah Jabodetabek.
Kondisi udara yang mengandung abu
vulkanik membawa kekhawatiran. Bukan hanya bagi siswa-siswi, tetapi juga guru
dan seluruh warga sekolah.
Dalam situasi seperti ini,
Home-Based Learning (HBL) menjadi salah satu langkah yang memang harus segera
dipersiapkan.
Namun, ada satu perbedaan besar
antara hari ini dan tahun 2020.
Pada saat pandemi pertama kali
terjadi, kami seperti masuk ke sebuah ruangan yang gelap. Karena saat itu kami
belum tahu harus berbuat apa. Sistem pembelajaran daring belum siap dan guru-guru
SMAS Syafana Islamic School belum semuanya menggunakan berbagai macam platform
digital. Tambahan lagi siswa-siswi dan orang tua juga harus beradaptasi.
Kali ini berbeda. Karena kami
pernah mengalaminya.
Infrastruktur digital sudah
tersedia. Platform pembelajaran sudah familiar. Guru sudah memiliki pengalaman
mengajar secara daring. Siswa juga tidak lagi asing dengan pembelajaran dari
rumah.
Yang kami perlukan kali ini bukan
membangun semuanya dari awal. Kami hanya perlu melakukan penyesuaian,
menyelaraskan kembali sistem yang sudah ada, dan memastikan semua orang siap. Dan
itulah yang kami lakukan.
Senin yang Berbeda
Keesokan paginya, Senin, KBM
dimulai dengan cara yang sedikit berbeda.
Kami membuka dengan morning
briefing virtual yang diikuti oleh seluruh guru dan siswa. Kebetulan hari
itu adalah hari Senin, jadi suasananya seperti apel pagi. Hanya saja, kali ini
tidak di lapangan, tanpa tiang bendera dan tidak ada kibaran Sang Saka.
Yang ada adalah layar komputer dan
wajah-wajah guru yang berada di sekolah serta wajah-wajah siswa yang muncul
dari rumah masing-masing.
Setelah pengarahan umum dari kepala sekolah dan wakil kepala sekolah selesai, Para wali kelas dan siswa-siswi masuk ke breakout room masing-masing kelas. Di sana, wali kelas kembali memegang memegang peranan penting dalam menyapa dan mengecek kondisi siswa untuk memastikan mereka dalam keadaan sehat. Setelah itu para wali kelas memastikan kesiapan siswa-siswi dalam mengikuti pembelajaran dan memberikan arahan.
Dan, mungkin yang paling penting
adalah memastikan bahwa siswa-siswi tetap merasa bahwa mereka sedang berada
dalam sebuah komunitas sekolah meskipun secara fisik mereka berada di rumah. Karena
belajar dari rumah bukan hanya persoalan memindahkan pembelajaran dari kelas ke
layar.
Ada manusia di balik setiap
layar.
Ada siswa yang mungkin merasa
khawatir.
Ada orang tua yang juga sedang
menghadapi situasi yang tidak biasa.
Ada guru yang harus memastikan
pembelajaran tetap berjalan.
Karena itu, dalam keadaan seperti
ini, sekolah tidak hanya harus memastikan learning continues tapi juga
harus memastikan connection continues.
Kita Pernah Mengalaminya
Saya kemudian berpikir tentang
apa yang sebenarnya berubah sejak 2020.
Bukan hanya teknologi dan platformnya.
Tetapi juga pengalaman kita.
Pandemi mengajarkan kita bahwa
keadaan bisa berubah dalam waktu yang sangat singkat.
Sesuatu yang kemarin terasa
mustahil, hari ini bisa menjadi kebutuhan. Dan sesuatu yang hari ini terasa
normal, besok bisa saja tidak dapat dilakukan. Karena itu, mungkin salah satu
pelajaran terbesar dari pengalaman pandemi bukanlah bagaimana menggunakan Zoom
atau Google Meet.
Pelajarannya adalah bagaimana
sebuah organisasi beradaptasi ketika keadaan memaksa kita untuk berubah.
Hari ini, pengalaman itu kembali
berguna.
Kita tidak tahu kapan keadaan
darurat berikutnya akan datang.
Kita tidak tahu bentuknya seperti
apa.
Tetapi kita bisa memastikan satu
hal:
ketika keadaan berubah, kita
sudah lebih siap untuk menghadapinya.
Sekolah yang Tangguh
Dari kilas balik pandemi hingga
kabut abu vulkanik hari ini, satu hal kembali teruji. Sekolah yang tangguh
bukanlah sekolah yang tidak pernah menghadapi masalah. Sekolah yang tangguh
adalah sekolah yang ketika masalah datang, orang-orang di dalamnya tahu apa
yang harus dilakukan.
Guru tidak panik.
Siswa tetap belajar.
Orang tua mendapatkan informasi.
Manajemen melakukan koordinasi.
Dan sistem yang sudah dibangun
sebelumnya mulai bekerja ketika benar-benar dibutuhkan. Mungkin inilah arti
sebenarnya dari sebuah kesiapan. Kesiapan bukan berarti kita tahu persis apa
yang akan terjadi. Tapi kesiapan dalam memiliki kemampuan untuk merespons
ketika sesuatu yang tidak kita harapkan tiba-tiba terjadi.
Dan hari ini, kami kembali
belajar hal itu.
Bukan hanya dari buku.
Bukan hanya dari materi
pelajaran.
Tetapi dari keadaan yang datang
tanpa kita undang.
Pada akhirnya, bencana memang
bukan sesuatu yang bisa kita pilih.
Tetapi bagaimana kita
meresponsnya adalah sesuatu yang bisa kita persiapkan.
Dan ketika keputusan tidak bisa
lagi menunggu, persiapan yang matang membuat kita tetap bisa melangkah
dengan tenang.
Mr. Sai
Komentar
Posting Komentar