Kepemimpinan Bukan Jabatan, tapi Keputusan Setiap Hari

 Belajar bahwa jabatan memberi wewenang, tetapi keputusan sehari-hari yang membangun kepercayaan.

Ketika pertama kali diangkat sebagai kepala sekolah tepatnya Juli 2015, saya sempat berpikir kepemimpinan adalah sesuatu yang datang bersama jabatan. Begitu surat keputusan ditandatangani, saya resmi menjadi pemimpin. Untungnya saya tidak butuh waktu lama untuk menyadari bagaimana kepemimpinan itu sebenarnya bekerja.

Jabatan tersebut memberikan saya wewenang untuk membuat keputusan. Akan tetapi wewenang itu tidak otomatis membuat orang lain mempercayai keputusan saya. Dan saya sadari juga bahwa kepercayaan itu dibangun, atau justru dirusak, oleh apa yang saya lakukan setelah jabatan itu ada di tangan saya — bukan oleh jabatan itu sendiri.

Masih segar diingatan saya dan benar-benar saya rasakan. Saya ingat momen ketika hal ini pertama kali benar-benar saya rasakan. Ada situasi kecil, seorang guru datang dengan masalah yang sebenarnya bisa saya selesaikan dengan cepat lewat instruksi. Tapi saya memilih duduk, mendengarkan lebih lama dari yang diperlukan, dan mencari solusi bersama, bukan memberikan solusi. Maksud saya ingin berempathy Guru itu keluar dari ruangan dengan cara yang berbeda dibanding kalau saya hanya memberi perintah. Saat itu saya sadar, kepemimpinan yang sesungguhnya tidak terjadi di ruang rapat besar atau di momen-momen seremonial. Ia terjadi di keputusan-keputusan kecil seperti itu, yang tidak pernah tercatat di mana pun.

Setiap hari, seorang kepala sekolah membuat ratusan keputusan kecil yang jarang disadari sebagai kepemimpinan. Bagaimana merespons keluhan orang tua yang datang tiba-tiba. Bagaimana menegur guru yang melakukan kesalahan tanpa mempermalukannya. Bagaimana memutuskan mana masalah yang perlu diselesaikan sekarang, dan mana yang bisa menunggu. Semua keputusan kecil ini, yang jarang terlihat dari luar, sebenarnya jauh lebih menentukan kualitas kepemimpinan dibandingkan keputusan besar yang sesekali harus diambil.

Saya juga belajar bahwa kepemimpinan bisa hilang tanpa jabatan pernah dicabut. Ada kepala sekolah yang masih menduduki posisinya, tapi sudah lama kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya, karena keputusan-keputusan kecil yang mereka ambil terus-menerus mengecewakan. Jabatan tetap ada di kertas. Tapi kepemimpinan yang sesungguhnya, yang hidup dari kepercayaan, sudah lama pergi.

Sebaliknya, saya pernah melihat guru yang tidak punya jabatan struktural apa pun, tapi jelas menjadi pemimpin di ruang guru. Rekan-rekannya mendengarkan pendapatnya, mempercayai keputusannya, mengikuti caranya menangani masalah. Ia memimpin bukan karena diberi wewenang, tapi karena keputusan-keputusan kecilnya, hari demi hari, membuktikan bahwa ia layak dipercaya.

Kalau kepemimpinan hanya soal jabatan, siapa pun yang ditunjuk akan otomatis menjadi pemimpin. Tapi kenyataannya, kepemimpinan harus dibuktikan ulang setiap hari, lewat keputusan-keputusan yang sering kali tidak ada yang melihat.

Educate the mind. Build character. Strengthen the soul.

Sainur Rahim, M.Ed.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI

MENULIS UNTUK KEPENTINGAN MENULIS ITU SENDIRI

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN