Ketika PISA Mengubah Cara Kita Melihat Pendidikan
PISA, Finlandia, China, dan Pertanyaan tentang Manusia yang Kita Bangun
Pagi itu saya membaca sebuah
artikel yang dibagikan atasan saya di grup Manajemen. Judulnya cukup menarik
perhatian: “Hasil Tes Pendidikan: Finlandia Tidak Lagi Terbaik Dunia, China
Perkasa.”
Bagi saya, isi artikel tersebut
penting sebagai bahan refleksi—bukan untuk mempertanyakan apa yang selama ini
kami lakukan di Syafana Islamic School–Upper Secondary sejak awal 2015, apalagi
buru-buru mengubah arah yang sudah kami bangun. Justru sebaliknya. Sebagai
seorang pendidik, saya melihat data dan perubahan seperti ini sebagai
kesempatan untuk kembali bertanya: sebenarnya, manusia seperti apa yang
ingin kita bangun melalui pendidikan?
PISA memberi kita data tentang
kemampuan akademik siswa. Finlandia memberi kita banyak pelajaran tentang
pendidikan yang humanistic dan perkembangan anak secara utuh. China
menunjukkan kekuatan academic excellence, discipline, hard work, dan high
expectations. Masing-masing memiliki sesuatu yang layak kita pelajari.
Tetapi mungkin pendidikan tidak
pernah sesederhana memilih satu model lalu meninggalkan yang lain. Pertanyaan
yang jauh lebih penting bukan lagi, “Kita harus mengikuti Finlandia atau
China?” melainkan, “Apa yang harus kita bangun dalam diri anak-anak kita
agar mereka mampu menghadapi kehidupan?”
Ketika Finlandia Tidak Lagi di
Puncak
Selama bertahun-tahun Finlandia
menjadi salah satu referensi yang sangat kuat dalam percakapan tentang
pendidikan. Ada banyak hal yang patut kita kagumi: cara mereka melihat anak
sebagai manusia, perhatian terhadap perkembangan dan well-being,
kepercayaan kepada guru, serta pandangan bahwa sekolah bukan hanya tempat
mengejar nilai.
Kita tentu tidak perlu kehilangan
kekaguman itu hanya karena posisi Finlandia dalam pemeringkatan berubah.
Ranking dan sistem dapat mengalami pasang surut, tetapi gagasan bahwa
pendidikan harus memperhatikan manusia secara utuh tetap relevan.
Kendati demikian, di sinilah kita
perlu berhenti sejenak. Kalau Finlandia mengingatkan kita bahwa anak bukan
sekadar angka, China mengingatkan kita pada sesuatu yang tidak kalah
penting: academic excellence tetap matters.
Ketika China Menunjukkan
Kekuatan Akademik
Hasil PISA menunjukkan bahwa
China memiliki performa akademik yang sangat kuat, ditopang oleh disiplin,
kerja keras, dan ekspektasi yang tinggi terhadap penguasaan pengetahuan. Kita
tentu tidak perlu alergi terhadap hal tersebut. Anak-anak kita tetap harus
mampu membaca dengan baik, berpikir secara matematis, memahami sains,
memecahkan masalah, dan memiliki fondasi pengetahuan yang kokoh.
Kreativitas tidak menggantikan
pengetahuan, dan critical thinking tidak tumbuh di ruang kosong. Namun,
di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: Apakah academic excellence dengan
sendirinya cukup untuk menyiapkan seorang anak menghadapi kehidupan?
Saya teringat kisah Zhang
Xinyang, anak ajaib dari China yang meraih gelar PhD pada usia 16 tahun, namun
bertahun-tahun kemudian dikabarkan belum bekerja dan masih bergantung secara
finansial kepada orang tuanya. Satu kasus tentu tidak cukup untuk menyimpulkan
kegagalan sebuah sistem, tetapi kisah tersebut memberi kita pengingat
sederhana: Academic achievement does not automatically become life
competence.
Kehidupan menuntut lebih dari
sekadar kemampuan menjawab soal ujian. Ia menuntut kemandirian, pengambilan
keputusan, tanggung jawab, dan kemampuan untuk tetap berjalan ketika tidak ada
lagi orang yang memberi kita jawaban.
Di Sini Saya Teringat Angela
Duckworth
Refleksi ini membawa saya pada
penelitian Angela Duckworth tentang grit. Duckworth tidak mengatakan
bahwa kemampuan akademik itu tidak penting; justru penelitiannya menunjukkan
bahwa pencapaian masa lalu tidak selalu cukup untuk menjelaskan siapa yang akan
bertahan ketika seseorang menghadapi proses yang panjang dan terjal.
Melalui studinya terhadap para
kadet di West Point, Duckworth menemukan bahwa kemampuan untuk terus bertahan
mengejar tujuan jangka panjang tidak sama dengan sekadar menjadi pintar. Ada
kualitas lain yang mutlak dibutuhkan: grit—kemampuan untuk tetap berusaha,
bertahan, dan melangkah ketika prosesnya tidak menyenangkan, ketika hasil belum
terlihat, dan ketika dorongan untuk berhenti begitu kuat. Inilah esensi
pendidikan yang sering kali sulit diukur melalui tes formal.
Lalu Bagaimana dengan
Anak-Anak Indonesia?
Kita tentu tidak boleh menutup
mata terhadap hasil PISA Indonesia; ada pekerjaan rumah yang besar dalam hal
kemampuan akademik dasar yang harus kita akui dan perbaiki. Tetapi sebagai
pendidik yang berinteraksi langsung dengan anak-anak Indonesia, saya juga
melihat kekuatan yang tidak sepenuhnya tertangkap oleh angka.
Bayangkan siswa-siswi kita
ditempatkan di lingkungan dengan fasilitas terbatas dan situasi yang jauh dari
ideal. Saya percaya banyak dari mereka akan mampu bertahan. Mengapa? Karena sejak
kecil mereka telah terbiasa beradaptasi dengan keterbatasan dan mencari jalan
keluar ketika situasi tidak berjalan sempurna. Di sana tersimpan potensi yang
berharga: resilience, perseverance, dan grit.
Ini bukan tentang membandingkan
siapa yang lebih baik, melainkan menyadari bahwa setiap masyarakat memiliki
pengalaman unik yang membentuk ketangguhannya. Kita tidak perlu kehilangan
kekuatan adaptif tersebut saat berupaya meningkatkan standar akademik.
Jadi, Finlandia atau China?
Kita tidak perlu terjebak dalam
dikotomi kaku antara model humanistic ala Finlandia atau academic
ala China. Mengapa harus memilih salah satu jika kita membutuhkan keduanya?
Kita membutuhkan anak yang
berpengetahuan sekaligus tahu untuk apa pengetahuan itu digunakan. Kita butuh
pemikir kritis yang disiplin, anak berprestasi yang siap menghadapi kegagalan,
serta individu kreatif dengan fondasi yang kokoh, mandiri, dan bertanggung
jawab.
Pada akhirnya, pendidikan bukan
sekadar tentang menghasilkan anak dengan nilai tertinggi, atau sebaliknya,
membuat mereka merasa nyaman sepanjang waktu. Pendidikan adalah tentang mempersiapkan
manusia untuk kehidupan yang sebenarnya.
Dan Saya Kembali Melihat Apa
yang Kami Bangun di Syafana
Ketika melihat kembali perjalanan
Syafana Islamic School–Upper Secondary sejak 2020, saya merasa arah yang kami
tempuh semakin menemukan bentuk rasionalnya. Bukan karena formula kami sudah
sempurna, melainkan karena sejak awal kami menolak melihat pendidikan secara
parsial:
- Academic Excellence, karena anak-anak kita
membutuhkan pengetahuan yang kuat dan nalar yang tajam.
- Islamic Excellence, karena ilmu tanpa nilai
dan arah kehilangan makna hakikinya.
- Leadership, karena mereka harus mampu
mengambil tanggung jawab, memutuskan arah, dan memberi kontribusi nyata.
- Character, karena kehidupan nyata jarang
berjalan dalam kondisi yang ideal.
Semua elemen ini dirajut bukan
sebagai program yang berdiri sendiri, melainkan sebagai ikhtiar membangun
manusia yang utuh. Pengalaman di ruang kelas, organisasi, kegiatan keislaman,
hingga dinamika menghadapi tantangan dan kegagalan memiliki satu tujuan akhir:
agar mereka bukan sekadar tahu, melainkan mampu mengambil
tanggung jawab dan tetap berdiri tegak saat keadaan menjadi sulit.
Apa yang Tersisa Ketika
Sekolah Sudah Tidak Ada?
PISA akan terus bergeser,
peringkat negara akan naik dan turun, dan rujukan global akan terus berganti.
Namun, ada satu pertanyaan yang jauh melampaui urusan ranking: Ketika
anak-anak kita meninggalkan gerbang sekolah, apa yang akan tetap tinggal di
dalam diri mereka ketika institusi ini tidak lagi ada untuk membimbing?
Apakah mereka memiliki
pengetahuan? Apakah mereka mampu berpikir mandiri dan bernurani? Dan ketika
hidup memukul mereka ke bawah, apakah mereka memiliki ketahanan untuk terus
melangkah?
Di situlah letak makna terdalam
dari pendidikan: bukan sekadar mempersiapkan siswa untuk perform well at
school, melainkan mempersiapkan mereka untuk stand well in life. Dan
itulah komitmen yang ingin terus kami hidupkan di Syafana:
We want our students to think
deeply, perform academically, behave ethically, and lead responsibly. Dan
ketika kehidupan menjadi sulit, we want them to have the resilience to keep
going.
Educate the mind.
Build character. Strengthen the soul.
Komentar
Posting Komentar