Ketika Semua Orang Mengatakan "Iya"
Belum tentu mereka setuju. Bisa jadi mereka hanya tidak merasa aman untuk mengatakan tidak.
Saat itu ruang rapat cukup
menegangkan karena beberapa rekan kerja memiliki pemikiran yang tidak sejalan
dengan pimpinan. Kami menghadirkan data dan fakta yang berbeda dengan yang
dimiliki beliau. Beliau cukup marah dan mengatakan, “Ikuti apa kata saya!” Dari
beberapa kejadian yang sama kami belajar bahwa kami harus selalu mengikuti dan
menyetujui rencana beliau.
Apakah anda pernah mengalami hal
seperti di atas dan akhirnya semua orang mengangguk?
"Setuju?"
"Iya, Pak."
"Ada yang keberatan?"
Diam.
Semuanya terlihat baik-baik saja.
Tapi apakah benar seperti itu?
Yang harus kita pahami sebagai pemimpin
bahwa tidak semua "iya" berarti setuju. Dan tidak semua diam berarti
tidak punya pendapat.
Mengapa Bawahan Mengatakan
"Iya"?
Ada banyak alasan kenapa
bawahan kita selalu mengatakan “Iya”,
tapi kalau dikelompokkan, sebagian besar jatuh ke empat hal.
Ada yang mengatakan “iya” karena
takut, takut dipecat, takut kariernya terganggu, takut dicap tidak loyal, dan takut
menjadi "orang sulit" di mata atasan.
Ada juga yang mengatakan “iya” karena
mereka menghormati sang atasan. Mereka tidak ingin mempermalukan pemimpinnya di
depan orang lain, dan memilih menyampaikan pendapatnya secara pribadi setelah
rapat atau memang mereka mempercayai keputusan yang diambil.
Yang mengatakan “iya” karena ingin
melindungi. Melindungi diri sendiri, melindungi atasannya, atau melindungi
organisasi dari konflik terbuka yang menurut mereka tidak perlu terjadi.
Dan sebagian lagi mengatakan “iya”
karena mereka memang sudah tidak percaya bahwa bicara akan mengubah sesuatu.
Keputusan sudah dibuat, dan pengalaman sebelumnya mengajarkan mereka bahwa
berdebat hanya buang-buang energi. "Percuma ngomong."
Nah kategori terakhir ini yang saya
anggap paling berbahaya. Ini bukan karena mereka nakal. Ini justru karena
mereka sudah berhenti mencoba.
Diam Bukan Data
Ini bagian yang sering salah
dibaca oleh pemimpin.
Diam bisa berarti setuju. Bisa
juga berarti tidak tahu, menghormati, takut, bingung, tidak peduli, sedang
menunggu waktu yang tepat atau sudah menyerah.
Silence is not consent.
Dan dalam konteks kepemimpinan,
ada satu kalimat yang perlu terus diingat: diam bukan data. Pemimpin yang
membaca diam sebagai persetujuan sedang membuat kesimpulan dari sesuatu yang
tidak pernah dikatakan.
Hidup di Dalam Ruangan yang
Selalu Setuju
Kalau setiap keputusan selalu
dibalas dengan "Baik, Pak," "Setuju, Pak," "Siap,
Pak", secara perlahan seorang pemimpin mulai percaya bahwa semua orang
memang mendukungnya.
Padahal yang sebenarnya terjadi
mungkin berbeda: orang-orang sudah mulai belajar bagaimana cara tetap aman di
sekitar pemimpinnya.
Lama kelamaan terbentuklah
semacam ruang gema di mana seorang pemimpin semakin jarang mendengar informasi
yang tidak menyenangkan, karena informasi itu sudah disaring jauh sebelum
sampai ke mejanya. Dan semakin tinggi posisi seorang pemimpin dalam organisasi,
semakin besar kemungkinan hal itu terjadi tanpa ia sadari.
Saya selalu percaya bahwa ini
bukan soal karakter pemimpinnya jelek. Ini soal sistem di sekitarnya yang,
tanpa disengaja, mengajarkan orang untuk diam.
Dua Diam yang Terlihat Sama,
Tapi Berbeda
Ada bawahan yang tidak membantah
karena, "Saya percaya kepada Anda." Itu sehat.
Ada juga yang tidak membantah
karena, "Saya tahu tidak ada gunanya." Itu penyakit organisasi.
Dari luar, keduanya terlihat
identik — sama-sama diam, sama-sama mengangguk. Tapi maknanya bertolak
belakang. Yang satu tumbuh dari kepercayaan. Yang satu tumbuh dari rasa lelah.
Pemimpin yang tidak bisa
membedakan keduanya akan terus salah membaca timnya sendiri.
Pertanyaan yang Perlu Diubah
"Ada yang keberatan?"
hampir selalu dijawab, "Tidak."
Coba pertanyaan lain. "Apa
yang mungkin salah dari keputusan ini?" Atau, "Kalau Anda tidak
setuju dengan saya, apa alasannya?" Atau bahkan, "Saya ingin satu
orang mengambil posisi yang berbeda dari saya dan apa argumennya?"
Pertanyaan semacam ini mengubah
posisi ketidaksetujuan. Dari sesuatu yang dianggap pembangkangan, menjadi
bagian normal dari cara berpikir bersama.
Ini juga momen di mana tafakkur
punya tempatnya atau jeda sebentar sebelum menjawab, memikirkan ulang sebuah
keputusan bukan karena ragu, tetapi karena ingin memastikan bahwa keputusan itu
sudah dilihat lebih dari satu sisi.
Bawahan Juga Punya Tanggung
Jawab
Jangan sampai tulisan ini membuat
pemimpin menjadi satu-satunya pihak yang salah.
Bawahan juga perlu belajar
berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat. Berbeda pendapat bukan berarti
tidak menghormati. Dan mengiyakan bukan selalu berarti menghormati.
Bukan, "Bapak salah."
Tapi, "Saya melihat risikonya berbeda, Pak."
Bukan menyerang pribadi.
Challenge the idea, not the person.
Ini bagian yang menurut saya
paling relevan untuk konteks kepemimpinan pendidikan karena keberanian bicara
yang sehat itu sendiri perlu diajarkan, bukan diasumsikan sudah dimiliki semua
orang.
Dari Takut Mengatakan Tidak,
Menjadi Aman Mengatakan Tidak
Organisasi yang sehat bukan
organisasi di mana semua orang setuju dengan pemimpinnya.
Organisasi yang sehat adalah
organisasi di mana orang-orang merasa aman untuk tidak setuju dengan
pemimpinnya.
Karena setelah perdebatan
selesai, keputusan memang tetap milik pemimpin. Tetapi sebelum keputusan
dibuat, pikiran semua orang perlu diberi kesempatan untuk hadir.
Pemimpin tidak membutuhkan lebih
banyak orang yang mengatakan "iya". Pemimpin membutuhkan orang-orang
yang cukup aman untuk mengatakan "tidak", cukup berani untuk
menjelaskan alasannya, dan cukup dewasa untuk tetap bekerja sama setelah
perbedaan itu disampaikan.
Pemimpin yang selalu mendengar
"iya" mungkin sedang memimpin organisasi yang sangat kompak. Atau
mungkin sedang memimpin organisasi yang sudah belajar untuk diam.
Educate the mind. Build
character. Strengthen the soul.
Komentar
Posting Komentar