Ketika yang Baru Dianggap Penyelamat, yang Lama Dianggap Biasa Saja
Ketika kontribusi yang membangun fondasi menjadi tidak terlihat, sementara orang yang datang belakangan justru dianggap sebagai penyelamat.
Ada orang-orang yang bekerja di
sebuah organisasi sejak organisasi itu masih kecil.
Mereka datang ketika jumlah orang
masih sedikit. Sistem belum rapi. Banyak pekerjaan masih dikerjakan secara
manual. Struktur belum jelas. Bahkan mungkin belum ada sistem yang bisa disebut
sistem.
Mereka bertahan ketika organisasi
melewati masa-masa sulit.
Sedikit demi sedikit, mereka ikut
membangun apa yang sekarang terlihat sebagai sesuatu yang biasa: prosedur yang
berjalan, budaya kerja yang terbentuk, pelayanan yang tetap berlangsung, dan
organisasi yang akhirnya menjadi jauh lebih besar.
Lalu organisasi tumbuh.
Orang-orang baru datang.
Mereka membawa pengalaman baru,
cara kerja baru, dan mungkin memang membawa beberapa perbaikan yang dibutuhkan
organisasi. Tentunya itu hal yang baik.
Yang menjadi persoalan adalah
ketika kehadiran mereka kemudian membuat seolah-olah perubahan itu dimulai
ketika mereka datang.
Padahal sering kali tidak
demikian. Mereka hanya datang ketika fondasinya sudah ada.
Yang Sudah Berjalan Lama
Sering Tidak Lagi Terlihat
Ada sesuatu yang menarik dalam
psikologi organisasi.
Hal-hal yang berhasil dibangun
dan dipertahankan dalam waktu lama akhirnya menjadi sesuatu yang dianggap
normal.
Sekolah tetap berjalan setiap
hari. Guru tetap mengajar. Siswa tetap datang. Program tetap berlangsung. Orang
tua tetap mendapatkan pelayanan. Masalah muncul dan diselesaikan. Sistem
berjalan.
Karena semuanya berjalan, orang
kemudian lupa bahwa dulu semua itu tidak berjalan dengan sendirinya.
Kontribusi yang berlangsung
bertahun-tahun berubah menjadi baseline. Tidak lagi dianggap sebagai
pencapaian. Ia menjadi: "Ya memang begitu seharusnya."
Ironisnya, ketika sesuatu
mengalami masalah lalu seseorang datang dan memperbaikinya, perbaikan itu
justru lebih mudah terlihat. Ada perubahan. Ada cerita. Ada sesuatu yang bisa
ditunjukkan.
Dan karena perubahan itu terjadi
setelah orang tersebut datang, sangat mudah bagi organisasi untuk menghubungkan
keduanya:
orang
baru datang → keadaan berubah → orang baru dianggap penyelamat.
Padahal bisa saja perubahan itu
terjadi karena ia berdiri di atas fondasi yang dibangun oleh banyak orang
sebelumnya.
Bukan Selalu yang Paling
Berjasa yang Paling Terlihat
Dalam organisasi, ada perbedaan
antara kontribusi dan visibility.
Orang yang paling banyak
berkontribusi belum tentu orang yang paling sering terlihat. Apalagi jika
pekerjaannya berada di lapangan.
Di sekolah, misalnya, kepala
sekolah dan wakil kepala sekolah mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya
memastikan unitnya berjalan: mengurus guru, siswa, orang tua, program, disiplin,
akademik, kegiatan, konflik, dan berbagai persoalan yang bahkan tidak pernah
sampai ke meja pimpinan tertinggi.
Pekerjaan seperti itu jarang
terlihat sebagai sebuah "pencapaian besar." Sebab keberhasilannya
justru terlihat dalam bentuk tidak adanya masalah.
Sementara itu, orang yang lebih
sering berinteraksi dengan pimpinan dapat memiliki visibility yang jauh
lebih tinggi. Ia lebih sering menjelaskan apa yang dikerjakan. Lebih sering
menyampaikan masalah yang sudah diselesaikan. Lebih sering hadir dalam
percakapan strategis.
Lama-kelamaan, muncul sebuah
persepsi: "Dia yang banyak mengurus."
Padahal ada perbedaan besar
antara mengkoordinasikan sesuatu dari pusat dan menjalankan sesuatu
di lapangan setiap hari. Keduanya penting. Tetapi keduanya tidak boleh
dipertukarkan.
Narasi Bisa Mengalahkan Fakta
Ini bagian yang menurut saya
paling berbahaya.
Dalam organisasi, orang tidak
selalu menilai berdasarkan seluruh fakta. Mereka menilai berdasarkan cerita
tentang fakta yang paling sering mereka dengar.
Kalau seseorang terus-menerus
mengatakan bahwa ia menangani banyak hal, pimpinan akhirnya mengenalnya sebagai
orang yang menangani banyak hal. Bukan karena pimpinan sengaja mengabaikan
orang lain. Tetapi karena manusia memang cenderung membangun persepsi dari informasi
yang tersedia di hadapannya.
Masalahnya, informasi yang
tersedia belum tentu menggambarkan seluruh pekerjaan yang sebenarnya terjadi.
Karena itu, pemimpin perlu
berhati-hati terhadap kalimat-kalimat yang terdengar mengesankan. "Saya
mengurus tujuh unit." Pertanyaan berikutnya seharusnya sederhana: dalam
praktiknya, siapa yang menjalankan tujuh unit tersebut setiap hari?
Siapa yang mengurus gurunya?
Siapa yang menghadapi siswanya? Siapa yang berbicara dengan orang tuanya? Siapa
yang menyelesaikan konflik? Siapa yang memastikan program berjalan? Siapa yang
bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan?
Jawabannya mungkin bukan orang
yang paling sering menyampaikan laporan kepada pimpinan. Dan itu bukan berarti
orang yang menyampaikan laporan tidak bekerja. Ini hanya berarti: jangan
menyamakan visibility dengan contribution.
Pemimpin Harus Melihat Lebih
Jauh dari Siapa yang Paling Dekat
Pemimpin yang baik tidak hanya
bertanya: "Siapa yang paling sering memberi saya informasi?"
Tetapi juga: "Dari mana
informasi ini berasal?" "Siapa yang sebenarnya mengerjakan pekerjaan
tersebut?" "Siapa yang menanggung konsekuensinya ketika keputusan itu
gagal?" "Apa yang sudah dibangun sebelum orang ini datang?"
Dan yang tidak kalah penting: "Siapa
yang selama ini bekerja tanpa merasa perlu menjelaskan dirinya?"
Karena orang yang paling tenang
sering kali bukan orang yang paling sedikit bekerja. Bisa jadi justru
sebaliknya. Mereka terlalu sibuk mengerjakan pekerjaannya untuk menghabiskan
banyak waktu menjelaskan betapa pentingnya pekerjaan mereka.
Secara konkret, ini berarti:
sebelum memberi pengakuan atau kepercayaan besar kepada seseorang, verifikasi
klaimnya lintas sumber—jangan hanya percaya pada satu narasi, sekuat apa pun
narasi itu disampaikan. Dan sengaja luangkan waktu bertanya kepada orang-orang
yang jarang bicara, karena mereka jarang akan datang sendiri untuk menjelaskan
jasanya.
Tapi Orang Lama Juga Harus
Belajar Berbicara
Namun, kita juga perlu jujur.
Tidak semua masalah adalah kesalahan pemimpin.
Kadang-kadang orang yang sudah
lama bekerja memiliki keyakinan: "Saya kan memang kerja. Tidak perlu
cerita."
Saya dulu mungkin termasuk orang
yang berpikir seperti itu.
Tetapi organisasi modern tidak
selalu bekerja seperti itu. Bekerja dengan baik tetap penting. Tetapi
membuat pekerjaan kita dapat dipahami juga penting.
Bukan untuk pamer. Bukan untuk
mencari pujian. Bukan untuk merebut kredit dari orang lain. Tetapi supaya
keputusan organisasi dibangun berdasarkan gambaran yang utuh.
Kalau kita tidak pernah menjelaskan
apa yang kita kerjakan, jangan selalu menyalahkan orang lain ketika kontribusi
kita tidak terlihat.
Dan kalaupun kekecewaan itu
muncul—karena memang wajar muncul—jangan biarkan ia berubah menjadi sinisme
terhadap organisasi atau terhadap orang yang datang belakangan. Yang bisa
benar-benar kita kendalikan hanyalah kualitas kerja kita sendiri, dan kejujuran
cara kita menceritakannya.
Jangan Berebut Menjadi
Penyelamat
Saya kira organisasi yang sehat
tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang ingin terlihat sebagai penyelamat.
Organisasi membutuhkan
orang-orang yang mau membangun sistem sehingga tidak perlu ada penyelamat
setiap kali muncul masalah.
Dan di sinilah penghargaan
terhadap orang lama menjadi penting. Bukan karena lama bekerja otomatis berarti
lebih berjasa. Loyalitas juga bukan pengganti kompetensi. Tetapi seseorang yang
sudah bertahun-tahun membangun, menjaga, dan mengembangkan sebuah organisasi
layak dinilai berdasarkan jejak kontribusinya, bukan hanya berdasarkan
seberapa menarik cerita tentang dirinya hari ini.
Orang baru tetap harus diberi
kesempatan. Ide baru tetap harus dihargai. Perubahan tetap harus diterima.
Tetapi jangan sampai setiap kali
seseorang datang membawa perubahan, kita lupa bertanya: "Siapa yang
membuat organisasi ini cukup kuat sehingga perubahan itu bisa terjadi?"
Sebab ada orang-orang yang
membangun rumah. Ada orang yang datang kemudian mengecat dindingnya. Cat baru
memang membuat rumah terlihat berbeda. Tetapi bukan berarti orang yang mengecat
itulah yang membangun rumah.
Dan mungkin itulah salah satu
tugas terpenting seorang pemimpin: memberikan penghargaan bukan hanya kepada
mereka yang terlihat ketika perubahan terjadi, tetapi juga kepada mereka yang
bekerja jauh sebelum perubahan itu terlihat.
Karena organisasi yang hanya
pandai menghargai orang yang terlihat pada hari ini, suatu hari mungkin akan
kehilangan orang-orang yang membangunnya sejak kemarin.
Educate the mind. Build
character. Strengthen the soul.
Komentar
Posting Komentar