Melihat Kehidupan dari Sisi Lain

 LIVE-IN: Ketika Anak Tidak Hanya Berkunjung, tetapi Belajar Memahami

Ada kehidupan yang mungkin selama ini hanya mereka dengar. LIVE-IN membuat mereka melihat, merasakan, dan menjalaninya.

"Saya harus tidur di kasur yang empuk dan di kamar ber-AC."

Kita mungkin sering mendengar keluhan seperti itu dari anak-anak zaman sekarang.

Di mana mereka menuntut kamar harus nyaman, koneksi internet harus bagus, makanan harus tersedia serta kebutuhan sehari-hari harus selalu sudah ada. Dan memang kehidupan seperti itu yang selama ini mereka kenal.

Tapi pernahkah mereka melihat sisi kehidupan yang lain?

Tidak perlu pergi ke daerah terpencil dan tidak perlu pergi jauh dari BSD.

Ada beberapa wilayah yang terletak tidak terlalu jauh dari sekolah, masih ada keluarga yang hidup dengan kondisi yang sangat berbeda.

Rumah dengan kamar tidur dan kamar mandi yang sederhana dan masih dengan toilet jongkok. Tembok yang mulai terkelupas. Perabotan yang sudah lama. Ruang yang terbatas.

Bagi warga setempat, semua itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi bagi sebagian anak-anak kita, mungkin terasa seperti dunia yang berbeda.

Tinggal, Bukan Sekadar Berkunjung

Syafana Islamic School – Upper Secondary memiliki program LIVE-IN, sebuah program yang sudah berjalan sejak awal berdirinya Upper Secondary.

Siswa-siswi tinggal di rumah warga.

Mereka makan bersama keluarga tempat mereka tinggal. Berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Mengunjungi dan membantu UMKM. Mengajar di sekolah dasar melalui program Syafana Mengajar, biasanya mengajarkan Bahasa Inggris.

Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Membantu program RT, RW, atau kelurahan.

Bisa melalui kegiatan PKK, membantu pendataan masyarakat, sensus, mengukur jalan, kegiatan sosial, thrift atau donasi.

Mereka tidak datang sebagai wisatawan. Mereka datang untuk hidup bersama masyarakat. Dan justru di situlah pembelajarannya dimulai.

Ketika Realitas Tidak Lagi Sekadar Cerita

Mungkin selama ini mereka tahu bahwa ada orang yang hidup dalam  kesederhanaan.

Akan tetapi mengetahui dan melihat langsung adalah dua hal yang berbeda.

Mereka bisa melihat bagaimana sebuah keluarga mengatur kehidupan dengan penghasilan yang, kalau dihitung, mungkin jauh di bawah uang saku mereka.

Mereka melihat usaha kecil warga serta membantu warga berjualan. Selain itu mereka juga mengunjungi UMKM.

Dan mungkin muncul pertanyaan sederhana:

"Kok bisa mereka bertahan dengan penghasilan seperti ini?"

Ada pula pengalaman yang mungkin lebih sulit dilupakan.

Mereka melihat bahwa bagi sebagian keluarga, beras untuk makan malam bukan sesuatu yang selalu tersedia untuk satu bulan ke depan.

Ada yang baru bisa membeli beras setelah mendapatkan uang dari hasil berjualan pagi itu.

Sementara di rumah, anak-anak kita mungkin terbiasa melihat orang tua menyimpan persediaan beras untuk berminggu-minggu.

Tidak semua keluarga di tempat LIVE-IN mengalami kondisi seperti itu.

Tetapi ketika anak melihat kenyataan tersebut secara langsung, sesuatu mulai berubah dalam cara mereka memandang kehidupan.

Termasuk cara mereka memandang rumah sendiri.

Warung yang Selalu Ramai

Ada hal-hal kecil yang justru menjadi cerita tersendiri di lingkungan mereka tinggal.

Warung-warung di sekitar biasanya menjadi lebih ramai karena siswa-siswi berbelanja dan jajan.

Anak-anak kecil di sekitar rumah singgah berkumpul. Sering kali mereka hanya berdiri di sekitar rumah sambil berteriak,

"KAKAAA!"

Anak-anak Syafana mungkin datang sebagai tamu. Tetapi dalam satu hari, mereka mulai dikenal.

Mulai disapa dan ditunggu.

Mulai menjadi bagian kecil dari kehidupan masyarakat di sana.

Dan mungkin ketika mereka pulang, mereka membawa lebih banyak daripada sekadar pengalaman.

Belajar Bersyukur Tanpa Diceramahi

Salah satu hal yang sering berubah setelah LIVE-IN adalah cara anak memandang kenyamanan yang selama ini mereka anggap biasa.

Kasur yang empuk.

Kamar ber-AC.

Kamar mandi yang nyaman.

Makanan yang tersedia.

Air yang mudah didapat.

Beras yang selalu ada.

Orang tua yang memenuhi kebutuhan mereka.

Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa, tiba-tiba terlihat berbeda.

Bukan karena kehidupan orang lain harus dijadikan ukuran untuk membuat mereka merasa beruntung.

Tetapi karena mereka mulai memahami bahwa kenyamanan yang mereka miliki adalah sesuatu yang layak disyukuri.

Mereka mulai melihat usaha orang tua mereka dari perspektif yang berbeda.

Mungkin selama ini mereka hanya melihat apa yang tersedia di rumah.

Sekarang mereka mulai melihat apa yang dibutuhkan agar semua itu tersedia.

Lebih dari Sekadar Program

Di sekolah lain, program semacam ini mungkin dikenal sebagai immersion.

Di perguruan tinggi, kita mengenal bentuk yang lebih luas melalui KKN.

Tetapi apa pun itu namanya, inti dari kegiatan ini sama:

keluar dari Zona Nyaman atau Lingkungan yang selama ini mereka kenal dan belajar melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda.

LIVE-IN mungkin tidak terlihat sebagai program yang spektakuler.

Tidak ada panggung besar.

Tidak ada gedung mewah.

Tidak ada teknologi canggih.

Hanya rumah warga, warung kecil, sekolah dasar, UMKM, jalan kampung, kegiatan masyarakat, dan interaksi sehari-hari.

Tetapi justru karena itulah program ini penting.

Karena pendidikan tidak selalu terjadi ketika guru sedang mengajar di depan kelas.

Kadang pendidikan terjadi ketika seorang anak melihat seorang ibu bekerja sejak pagi.

Ketika mereka mengajar anak SD yang antusias belajar Bahasa Inggris.

Ketika mereka membantu pedagang kecil.

Ketika mereka berbagi makanan dengan keluarga tempat mereka tinggal.

Ketika mereka melihat sebuah kamar mandi yang sederhana dan menyadari bahwa standar kenyamanan setiap orang memang berbeda.

Dan ketika mereka pulang ke rumah, membuka pintu kamar sendiri, melihat kasur, AC, makanan, dan segala sesuatu yang sudah tersedia. Mungkin, saya rasa ini mungkin untuk pertama kalinya mereka berhenti sejenak dan berpikir:

"Ternyata selama ini saya sudah menerima begitu banyak dari orangtua saya."

Itulah salah satu alasan mengapa LIVE-IN penting bagi siswa-siswi Syafana Islamic School-Upper Secondary.

Bukan untuk mengajarkan mereka bagaimana rasanya hidup susah.

Tetapi untuk membantu mereka memahami bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari apa yang selama ini mereka lihat.

Ada sisi kehidupan lain.

Dan kadang-kadang, kita perlu keluar dari kehidupan kita sendiri untuk benar-benar melihatnya.

 

Mr. Sai

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS UNTUK KEPENTINGAN MENULIS ITU SENDIRI

SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN