Memperbesar Konflik adalah Cara Menyelesaikan Konflik
Kadang masalah nggak selesai bukan karena terlalu besar, tapi karena dampaknya belum cukup dirasakan oleh orang-orang yang sebenarnya perlu ikut menyelesaikannya.
Masalah sering kali
berlarut-larut bukan karena rumit, melainkan karena ia hanya dianggap sebagai
urusan satu orang atau satu bagian. Ketika dampaknya terisolasi, wajar jika
tidak banyak orang merasa perlu ikut turun tangan.
Bayangkan kita berada di lorong yang
padat sambil membawa secangkir air panas.
Lalu kita berkata:
“Permisi, tolong beri saya
jalan.”
Orang mungkin hanya menoleh
sebentar, lalu mengabaikan. Siapa dia? Kenapa saya harus repot-repot
minggir?
Tapi coba katakan hal ini:
“Permisi, beri saya jalan.
Saya membawa air mendidih. Kalau tersenggol, nanti ada yang bisa tersiram.”
Seketika itu juga, orang-orang di
depan kita akan membuka jalan.
Kenapa? Karena “beri saya
jalan” adalah kepentingan saya sendiri, sedangkan “jangan sampai ada
yang tersiram air panas” adalah kepentingan semua orang.
Faktanya, masalah di tangan kita tidak berubah. Yang berubah hanyalah cara orang melihat dampaknya. Dinamika seperti inilah yang kerap terjadi di dalam organisasi.
Masalah Kecil Sering Diabaikan
Selama sebuah masalah hanya
berdampak pada satu individu atau satu divisi, orang-orang di luar lingkaran
itu akan dengan mudah berpikir: “Itu bukan urusan saya.”
Bukan berarti mereka apatis atau
tidak peduli. Sering kali, mereka memang belum melihat benang merah bagaimana
masalah tersebut pada akhirnya bisa merembet ke area kerja mereka.
Di sinilah peran penting kepemimpinan. Tugas seorang pemimpin bukan sekadar memadamkan api, melainkan membuat dampak sebuah masalah terlihat secara utuh.
Konflik Menjadi Penting Ketika
Menjadi Kepentingan Bersama
Membawa masalah ke permukaan
bukan berarti menciptakan drama atau menebar ketakutan. Caranya adalah dengan
memetakan konsekuensi secara objektif.
Pertanyaannya tidak lagi berhenti
pada:
“Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?”
Melainkan bergeser menjadi:
“Kalau masalah ini dibiarkan,
siapa saja yang bakal ikut terdampak?”
Ketika jawabannya hanya satu
orang, atensi yang muncul cenderung kecil. Ketika jawabannya satu tim,
kepedulian mulai tumbuh. Dan ketika dampaknya meluas ke seluruh organisasi,
semua pihak secara otomatis merasa perlu terlibat untuk mencari jalan keluar.
Jangan Perbesar Drama,
Perbesar Kesadaran
Inilah inti dari gagasan ini. Memperbesar
konflik tidak pernah berarti memperkeruh keadaan. Kita tidak perlu membuat
situasi menjadi lebih emosional atau gaduh dari yang seharusnya.
Yang perlu diperbesar adalah kesadaran
kolektif tentang risikonya.
Sebab sering kali, resistensi
muncul karena orang-orang melihat suatu persoalan dengan pola pikir: “Itu
konflik mereka.” Padahal, begitu dampaknya dibedah dan diperlihatkan dengan
jujur, kesadarannya berubah menjadi: “Kalau ini dibiarkan, kita semua yang
kena.”
Di titik itulah sebuah persoalan
bertransformasi menjadi kepentingan bersama. Dan ketika sebuah urusan sudah
menjadi milik bersama, selalu ada lebih banyak tangan yang bersedia merapatkan
barisan untuk menyelesaikannya.
Kadang, untuk menyelesaikan
konflik, kita tidak perlu membuat masalahnya lebih besar.
Kita hanya perlu membuat
dampaknya terlihat lebih luas.
Bukan untuk memperkeruh suasana,
melainkan agar semua orang bisa melihat apa yang selama ini hanya dirasakan
oleh sedikit orang.
Educate the mind. Build
character. Strengthen the soul.
Komentar
Posting Komentar