Pada Saat Keputusan Tidak Bisa Menunggu

Mengambil keputusan terencana dalam keadaan darurat bencana

Dalam keadaan darurat, cepat itu penting. Tetapi kesiapan dalam membuat keputuskan jauh lebih penting. Sebagai kepala sekolah, saya cukup sering mendapatkan masukan dari orang tua ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat.

“Pak, kalau keadaan darurat, harus segera buat keputusan. Saat ini juga.”

Saya memahami itu.

Bahkan saya tidak pernah menganggap desakan seperti itu sebagai sesuatu yang salah. Orang tua sedang memikirkan keselamatan anak mereka. Ketika situasi tidak jelas, tentu mereka ingin mendapatkan kepastian.

Apakah anak mereka harus hadir di sekolah apa tidak? Kalau di rumah, mulai kapan?

Orang tua ingin tahu dan mereka ingin tahu sekarang. Tetapi ada sesuatu yang mungkin tidak terlihat dari sisi orang tua.

Keputusan sekolah tidak hanya menyangkut satu anak.

Di belakang satu keputusan ada ribuan siswa, guru, dan karyawan.

Beberapa sekolah juga memiliki beberapa jenjang Pendidikan dimana ada kegiatan belajar mengajar dan system yang harus berjalan yang tentunya keselamatan siswa tetap yang paling utama.

Dan ketika sekolah berada dalam satu lingkungan yang terdiri dari beberapa unit dengan kewenangan yang berbeda, satu keputusan bisa menjadi lebih kompleks daripada yang terlihat. Inilah yang terjadi beberapa di beberapa sekolah.

Ketika Abu Vulkanik Menjadi Kekhawatiran

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk wilayah Jabodetabek. Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran. Bukan hanya bagi masyarakat secara umum. Tetapi juga bagi orang tua yang anaknya setiap hari harus pergi ke sekolah.

Pemerintah dan otoritas kebencanaan kemudian memberikan berbagai informasi dan imbauan. BNPB memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya. Pemerintah Kabupaten Tangerang juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan orang tua sangat sederhana:

“Anak-anak tetap sekolah atau tidak?”

Pertanyaannya yang sangat sederhana tapi jawabannya tidak selalu sederhana.

Sebelum sekolah mengambil keputusan, ada beberapa hal yang perlu dilihat.

Bagaimana kondisi terkini?

Sejauh mana abu vulkanik menyebar?

Apa informasi dari lembaga yang berwenang?

Bagaimana arahan Dinas Pendidikan?

Bagaimana koordinasinya dengan pemerintah daerah dan BPBD?

Dan yang tidak kalah penting:

Kalau keputusan sudah dibuat, apakah sekolah siap menjalankannya?

Karena mengambil keputusan dan menjalankan keputusan adalah dua hal yang berbeda.

Sekolah Tidak Berdiri Sendiri

Dalam keadaan normal, sekolah memiliki ruang yang cukup luas untuk mengambil keputusan sendiri. Tetapi dalam keadaan bencana, sekolah berada dalam sebuah sistem yang lebih besar.

Kami harus mengikuti arahan Dinas Pendidikan provinsi Banten yang berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BPBD.

Di masing-masing daerah di Indonesia lembaga yang memberikan informasi mengenai aktivitas gunung dan kondisi kebencanaan yang tentunya mempunyai kewenangan dan informasi yang berbeda. Oleh karena itu, sekolah tentu harus memperhatikan arahan dari pihak yang memiliki kewenangan. Hal ini bukan karena sekolah tidak berani mengambil keputusan. Tetapi karena keputusan yang diambil harus memiliki dasar yang jelas dan di sinilah kadang terjadi kesalahpahaman.

Orang melihat:

“Kok belum ada keputusan?”

Sementara dari sisi manajemen sekolah, yang sedang terjadi bisa jadi:

“Kami sedang memastikan informasi dan koordinasinya.”

Dua-duanya sama-sama menginginkan keselamatan anak.

Hanya saja, cara melihatnya berbeda.

Yang Terjadi di Syafana

Sebelum arahan untuk melaksanakan Home Based Learning selama tiga hari diterima oleh Upper Secondary dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten, kami sudah berkoordinasi. Para guru diminta mempersiapkan materi pembelajaran secara daring dan mereka juga harus mempersiapkan platform pembelajaran yang ada.

Zoom kami siapkan.

Google Meet juga menjadi alternatif.

WhatsApp kami gunakan jika diperlukan.

Komunikasi kepada orang tua juga dipersiapkan.

Jadi kami tidak menunggu sampai keputusan keluar baru mulai bekerja.

Kami sudah bersiap sebelum keputusan itu harus dijalankan.

Tetapi ada tantangan lain.

Di lokasi yang sama, ada SMP Syafana.

SMAS berada dalam koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi, sementara SMP berada dalam koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten.

Artinya, keputusan untuk satu unit tidak bisa begitu saja dianggap sebagai keputusan untuk seluruh kompleks sekolah. Dalam hal ini kami harus melihat keseluruhan dan memastikan apa yang terjadi di SMP. Saat itu SMP masih menunggu arahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten.

Di titik ini, mungkin ada orang yang bertanya:

“Kenapa harus menunggu?”

Karena keputusan sekolah bukan hanya tentang apa yang menurut kita paling baik. Tapi ada aturan, kewenangan dan koordinasi yang dalam keadaan darurat, semua itu tetap harus berjalan.

Akhirnya, sekitar pukul 19.00, arahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten keluar dan kami melakukan koordinasi secara keseluruhan melalui Zoom. Masing-masing unit menyampaikan kesiapan dan rencana pelaksanaannya.

Setelah semuanya jelas, informasi mengenai Home Based Learning disampaikan kepada orang tua melalui wali kelas. Siswa-siswi belajar dari rumah sedangkan guru dan staf tetap hadir di sekolah.

Guru mengajar dari kelas masing-masing dengan menggunakan komputer yang tersedia di kelas maupun laptop pribadi.

Bagi siswa dan orang tua, mungkin yang terlihat hanya satu hal:

Belajar dari rumah/Home-Based Learning.

Selesai.

Tetapi sebenarnya tidak sesederhana itu.

Ada informasi yang harus dikumpulkan.

Ada keputusan yang harus ditunggu.

Ada beberapa unit yang harus diselaraskan.

Ada guru yang harus dipersiapkan.

Ada sistem pembelajaran yang harus dipastikan berjalan.

Dan ada ribuan orang yang harus menerima informasi yang sama.

Kami Tidak Menunggu untuk Bersiap

Dari pengalaman seperti ini saya belajar satu hal.

Menunggu keputusan tidak sama dengan menunggu untuk bekerja.

Ketika keputusan belum ada, kita tetap bisa mempersiapkan banyak hal yaitu, mempersiapkan guru agar mempersiapkan materi belajar secara daring. Lalu meminta mereka mempersiapka beberapa platform dan merancang alur komunikasi. Skenario bisa dibuat.

Sehingga ketika keputusan akhirnya datang, kami tidak baru mulai berpikir. Kami hanya tinggal menjalankannya.

Saya kira ini juga berlaku dalam banyak situasi di sekolah. Sering kali kita memang belum bisa mengambil keputusan final. Tetapi itu bukan alasan untuk tidak melakukan apa-apa. Justru ketika keputusan belum bisa dibuat, persiapan harus semakin cepat dilakukan.

Kami tidak menunggu untuk bersiap. Kami menunggu kepastian untuk memutuskan.

Menurut saya, ini dua hal yang sangat berbeda.

Cepat atau Tergesa-gesa?

Saya juga semakin memahami mengapa dalam situasi seperti ini orang tua menginginkan keputusan yang cepat.

Ketidakpastian memang tidak nyaman. Tetapi cepat dan tergesa-gesa bukan hal yang sama. Keputusan yang cepat adalah keputusan yang bisa diambil karena informasi yang diperlukan sudah cukup dan organisasi siap menjalankannya. Sedangkan keputusan yang tergesa-gesa sering kali muncul karena kita merasa harus segera mengatakan sesuatu.

Padahal informasi belum cukup dan koordinasi belum selesai tambahan lagi istem belum siap. Akibatnya, keputusan bisa berubah beberapa jam kemudian. Dan ketika keputusan berubah, yang bingung bukan hanya manajemen. Tapi Guru, siswa-siswi, dan orang tua.

Karena itu, saya tidak selalu percaya bahwa keputusan yang paling cepat adalah keputusan yang paling baik.

Dalam situasi tertentu, beberapa jam yang digunakan untuk mendapatkan informasi dan melakukan koordinasi justru bisa menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar.

Tentu saja, ada keadaan ketika kita tidak punya waktu untuk menunggu. Tentunya dalam keadaan seperti itu, pemimpin harus berani memutuskan. Tetapi keberanian mengambil keputusan juga harus diikuti dengan keberanian untuk bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Itulah bagian yang sering tidak terlihat.

Pada Akhirnya, Kita Semua Menginginkan Hal yang Sama

Saya kira orang tua dan sekolah sebenarnya tidak sedang berada di dua sisi yang berbeda. Orang tua ingin anak-anak mereka aman. Sekolah juga menginginkan hal yang sama. Orang tua membutuhkan kepastian. Sekolah harus memastikan bahwa kepastian yang diberikan memang bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin di situlah tantangan seorang pemimpin. Bukan sekadar membuat keputusan, tetapi membuat keputusan di tengah informasi yang terus berubah, berbagai kepentingan yang harus dipertimbangkan, dan waktu yang terus berjalan.

Dalam keadaan darurat, kita memang tidak boleh lambat. Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa.

Kita harus bergerak, bersiap, dan berkoordinasi. Pada saat waktunya tiba, kita harus berani memutuskan. Karena pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang paling cepat mengumumkan keputusan.

Yang lebih penting adalah apakah keputusan itu tepat, dapat dijalankan, dan benar-benar memberikan perlindungan kepada mereka yang menjadi tanggung jawab kita.

Keputusan yang baik bukan selalu keputusan yang paling cepat.

Kadang-kadang, keputusan yang baik adalah keputusan yang diambil pada waktu yang tepat, dengan informasi yang cukup, dan dengan kesiapan untuk mempertanggungjawabkannya.

Mr. Sai



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS UNTUK KEPENTINGAN MENULIS ITU SENDIRI

SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN