Pemimpin Bertanggung Jawab Dua Kali

 Di hadapan manusia kita menjelaskan hasilnya. Di hadapan Allah, kita mempertanggungjawabkan caranya.

Kita Sering Cuma Menghitung Tanggung Jawab yang Kelihatan

Pada saat seseorang diberikan amanah memimpin, ukuran keberhasilan yang diberikan cukup jelas.

Organisasi berkembang. Program jalan. Anggaran terkendali. Target tercapai. Warga puas. Atasan puas.

Memang seperti itu cara dunia mengukur keberhasilan seorang pemimpin.

Tapi ada bagian yang tidak pernah masuk laporan dan yang tidak masuk laporan ini bukan berarti tidak penting.

Bagaimana keputusan itu dibuat? Apakah adil? Apakah informasi yang dipakai benar? Apakah semua orang dikasih kesempatan bicara? Apakah orang yang dekat dapat perlakuan berbeda? Apakah pemimpin dengar kebenaran, atau cuma dengar orang-orang yang menyenangkannya?

Nah, itu wilayah pertanggungjawaban kedua.

 

Tanggung Jawab Pertama: Kepada Manusia

Seorang pemimpin memiliki kewajiban terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Karyawan. Guru. Siswa. Orang tua. Warga. Anggota organisasi. Bahkan orang yang nggak suka sama dia.

Jadi kepemimpinan bukan hak untuk melakukan apa saja hanya karena karena memiliki jabatan tersebut.

Jabatan merupakan kewenangan yang dibatasi oleh tanggung jawab.

 

Tanggung Jawab Kedua: Kepada Allah

Inilah bagian yang membedakan kepemimpinan biasa dengan kepemimpinan dalam perspektif iman.

Waktu tidak ada kamera. Waktu tidak ada rapat. Waktu tidak ada bawahan yang lihat. Waktu tidak ada yang tahu.

Allah tahu.

Maka pertanyaannya berubah. Bukan lagi: "apakah orang-orang menganggap saya pemimpin yang baik?"

Tapi: "apakah saya menjalankan amanah kepemimpinan ini dengan cara yang diridhai Allah?"

 

Yang Sulit Bukan Memimpin Ketika Semua Orang Melihat

Yang sulit adalah tetap adil ketika tidak ada yang bakal tahu kalau kita tidak adil.

Contoh untuk keadaan ini cukup banyak, seperti:

1.       memilih orang karena kompetensi atau karena kedekatan,

2.       memberi kesempatan karena prestasi atau karena loyalitas pribadi,

3.       mendengar kritik atau cuma mendengar pujian,

4.       mengakui kontribusi orang lain,

5.       berani bilang "saya salah," dan

6.       Tidak mengambil kredit atas kerjaan orang lain.

Di sinilah karakter pemimpin diuji.

 

Jabatan Kecil Pun Tetap Amanah

Kepemimpinan nggak harus CEO.

Kepala sekolah. Kepala dinas. Manajer. Ketua organisasi. Ketua RT. Ketua panitia. Bahkan orang tua di rumah.

Skala jabatannya beda-beda. Tapi prinsip amanahnya sama.

Jangan sampai kita anggap pertanggungjawaban akhirat cuma berlaku buat orang yang pegang jabatan besar.

Bisa jadi justru amanah kecil yang kita anggap sepele itulah yang ditanyakan kepada kita nanti.

Dunia Bisa Kasih Kita Jabatan. Akhirat Menilai Bagaimana Kita Menjalankannya

Dunia mungkin kasih kita jabatan berdasarkan keputusan manusia.

Dunia juga bisa ambil lagi jabatan itu berdasarkan keputusan manusia.

Tapi amanah kepemimpinan nggak selesai ketika jabatan berakhir.

Karena ada pertanggungjawaban yang nggak berakhir bareng masa jabatan.

 

Penutup

Mungkin karena itu, sebelum tanya: "apakah saya sudah jadi pemimpin yang berhasil?"

Ada pertanyaan yang lebih penting: "apakah saya sudah jadi pemimpin yang amanah?"

Sebab keberhasilan bisa dinilai manusia.

Tapi amanah pada akhirnya bakal dinilai oleh Allah.

Dan waktu pertanggungjawaban itu datang, mungkin bukan cuma hasil yang ditanyakan.

Tapi bagaimana kita pakai kewenangan yang pernah dipercayakan kepada kita.

Karena jabatan bisa berakhir. Amanah tidak.

 

Educate the mind. Build character. Strengthen the soul.

Sainur Rahim, M.Ed

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKOLAH YANG TAK MEMBEBANI

MENULIS UNTUK KEPENTINGAN MENULIS ITU SENDIRI

I HAVE FALLEN IN LOVE FIVE TIMES WITH THE SAME WOMAN